Jakarta nurri@nurlianasyaf.com 0856-9529-3813 @ranurri Catfiz: @ranurri

Hanya Sebuah Diary ......

Selasa, 03 Maret 2015

Aku dan Cerita Kemarin

Beberapa waktu lalu, tepatnya  hari minggu, seorang atasanku menghubungiku via telepon saat aku sedang tidur siang di rumah. Karena kaget ada suara nada telpn masuk dan itu dari atasanku, aku langsung terbangun dan segera menjawab telepon itu dengan perasaan harap-harap cemas. "Ada apa nih, kok tumben nelepon dihari libur kerja?"- Batinku.

Setelah ngobrol dan berbicara penjang lebar, akhirnya aku mengerti maksud dan tujuannya.
Apa? wait... Sini, pangku. Biar aku jelaskan.

Ia memintaku stay di Singapore untuk menemani Bosku yang akan tinggal di sana untuk beberapa saat. Karena beliau membutuhkan seseorang dan tidak berani tinggal di hotel sendirian dalam kurun waktu yang belum bisa ditentukan. Kurang lebihnya sekitar 2 minggu atau sampai 3 bulan.

Deg-Deg-Nyeessss......
Singapore? 2 Minggu? 3 Bulan??? Oh god, berpisah dengan ibu satu hari satu malam saja sudah membuatku bercucuran air mata (╥_╥)

Langkah pertama yang aku lakukan setelah mendengar kabar itu adalah bercerita sekaligus meminta izin kedua orangtua, dan keluarga. Bapak dan kakak-kakakku langsung mengizinkan aku stay disana, tapi Ibu? Ahh, ya. Ibu yang selalu mengkhawatirkan aku. Ibu ragu, apa anak perempuannya ini  bisa tinggal berlama-lama tanpanya? Apalagi di luar negeri yang jauh dimata. Ibu tau, anak perempuannya ini tidak bisa hidup berjauhan dengannya. Apalagi aku termasuk anaknya yang mudah sakit. Tidak ada yang salah dari keraguan Ibu. Aku pun demikian.

Dalam hatiku ada kebimbangan yang teramat sangat. Apa aku bisa? Tapi entah kenapa ada rasa ingin mencoba. Hatiku mengatakan aku harus bisa, aku pasti bisa. Tidak selamanya aku hidup bersama dengan Ibu. Tidak bisa selamanya aku hidup bergantung pada Ibu. Mungkin ini adalah saat yang tepat aku mulai belajar hidup mandiri tanpa Ibu. Ya, walau hanya dalam beberapa saat.
*mikir keras*

Dan setelah berpikir keras panjang, akhirnya Ibu mengizinkan. Dan aku  juga segera menghubungi atasanku, "Aku bersedia".

Keesokan harinya, aku datang ke kantor Imigrasi yang ada di daerah Mampang, Jakarta, untuk mengurus paspor sebelum keberangatanku ke Singapura.  Kedatanganku ke kantor imigrasi ditemani bapak.  Tapi bapak menunggu di luar, tidak mau masuk, dan di sini pun tertulis yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Keberadaan bapak di luar membuatku sedih. Aku duduk manis di ruangan yang dingin ini, sedang bapak? Ahh, sedang apa dia diluar sana. Sungguh, aku ingin dia di sini..

Waktu  sudah menunjuk angka 9:30, itu berarti sudah hampir 2 jam bapak menunggu diluar, sedangkan aku belum mendapat giliran masuk. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar gedung menemui bapak. Dan ternyata, ahh, kann... Aku menyesal mengajak bapak kesini. Dia menungguku di luar. Duduk di sebuah pot bunga besar yang ada di pinggir jalan raya depan kantor Imigrasi karena tidak ada kursi di tunggu yang kosong.

Dengan hati yang teriris, akhirnya aku menyuruh bapak untuk segera pulang saja karena nomor antrianku masih lama. Daripada bapak menunggu di luar, lebih baik pulang saja. Toh, selesai membuat paspor aku juga langsung pergi ke kantor tidak pulang kerumah. Dan ya, Bapak pun setuju untuk segera kembali ke rumah.

Pukul 10:10 WIB , aku selesai menghadapi tes wawancara. Dan segera berangkat menuju kantor.
FYI: Pembuatan paspor ini memakan waktu 3 hari kerja. Pembuatan hari senin, maka pengambilan nya hari kamis.

Ini buku nikah, ehh, buku paspor maksdunya ヽ(^。^)丿
Ohiya...
Atasanku bilang, rencana keberangkatanku ke Singapura paling cepat hari jumat, paling lambat hari minggu setelah pasporku selesai. Tapi ternyata rencana ini meleset. Di hari itu, aku tidak mendapat kabar dari kantor. Saat inilah aku benar-benar pasrah. Terserahlah, jadi atau enggak ke Singapuranya. Aku hanya berdoa meminta segala yang terbaik.

***
Setelah satu minggu berlalu, aku mendapat kabar dari atasanku kalau aku akan berangkat pada hari Rabu, 18 Februari 2015. Perasaanku saat itu adalah biasanya saja. Walaupun sudah H-2, aku belum beberes pakaian dan perlengkapan yang akan aku bawa. Hahaa..


Selasa, 17 Februari 2015
Hari ini aku pulang ngantor lebih awal dengan alasan belum menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa besok. Aku keluar kantor pukul 16:40 dan sampai dirumah pukul 18:30 menggunakan taxi. Ahh, parah, jalanan macet parah. Perjalanan Sudirman - Tanjung Barat memakan waktu 2 jam. Jakarta, oh, Jakarta.

Sesampainya di rumah aku tidak langsung beberes, aku malah bersantai main HP. Hahahaaa... Entah kenapa aku malas sekali, ngeri, takut gak jadi lagi. Wkwkkw....

Setelah puas main HP, pukul 21:40 aku baru mulai merapikan barang bawaanku, disambi ngobrol dengan Ibu dan sepupuku.

Pukul 22:27 WIB, belum selesai beberes barang bawaan yang akan dibawa besok, seorang mantan mengajakku keluar untuk makan dan ngobrol santai. Awalnya aku ragu. Ngapain coba malam-malam begini? Lagipula aku juga belum selesai beberes. Tapi.. Entah setan apa yang merasukiku, akhirnya aku menemui dia. Dan Pukul 23:30 aku baru kembali kerumah dan langsung tidur. Padahal belum selesai beberes. Hahah

Rabu, 18 Februari 2015 Pukul 2:40 WIB, aku bangun dari tidurku yang gak nyenyak. Segera mandi dan melanjutkan merapikan barang bawaanku. Dan pukul 4:20 aku berangkat ke Rawamangun, ke tempat atasanku menggunakan taxi ditemani bapakku.

Tak lupa sebelum berangkat pamit dengan Ibu. Ibu memeluk dan menciumku hangat dengan tetesan air mata dan berpesan agar aku selalu sehat dan betah di sana. Ini adalah kali pertama aku meninggalkan rumah. Aku adalah seorang anak perempuan yang sangat dijaga oleh peraturan. Tidak boleh menginap dirumah teman dan tidak pernah keluar kota apalagi negeri kecuali ada acara sekolah atau keluarga. Ya, Ibu dan bapak sangat menyayangiku.
Aku dibolehkan ke Singapura juga karena kakakku sudah kenal lama dengan atasanku. Kalau tidak, aku tak akan dibolehkan.

Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, pukul 5:10 WIB aku tiba di Rawamangun.
Aku dipesan agar datang pagi, dan aku melakukan itu. Tapi ternyata baru berangkat ke bandara pukul 8:30 WIB. Ngenes aku, ngeness. Hfffff.........

Setelah mengalami 3x kegagalan, alhamdulillah, rencana ke-4 ini berjalan dengan lancar. Penerbanganku pukul 9:40 menggunakan Singapore Airlines.

Ohiya, sebelumnya perlu diketahui kalau ini adalah penerbangan pertamaku. Ya, baru kali ini aku naik pesawat terbang. Dan ternyata inilah rasanya naik pesawat hehe.. Gimana rasanya? Ya, gitu deh :p

Ada rasa nyer-nyerr kalo mengingat kecelakaan pesawat Air Asia penerbangan menuju Singapura yang baru-baru ini sangat hangat diperbincangkan. Tapi, percayalah, Allah ada bersama kita. (´∀`)

***
Setelah kurang lebih satu setengah jam menembus awan, Pukul 11:20 waktu Singapura, aku tiba di Changi Airport.



Dari Changi Airport, aku langsung menuju hotel tempat aku tinggal selama di Singapura ini dengan menggunakan taxi. Pukul 12:00 waktu Singapura, aku tiba di York Hotel, tepatnya di Mount Elizabeth, Singapore

Perasaan sedih, senang, dan bahagia ada dalam benakku. Aku, dimana aku? Di negeri orang yang belum pernah aku datangi sebelumnya.
***


Selasa, 3-Maret-2015

Ini adalah hari ke-13 aku di Singapura.
Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Hidup di sini tidak sesulit yang aku bayangkan, walaupun pada kenyataannya aku sangat fakir bahasa Inggris, (apa lagi bahasa china). Mungkin karena doaku, doa ibu-bapak dan keluargaku, aku masih diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk bertahan hidup tanpa mereka disisiku.
Namun tidak bisa aku pungkiri, dari 13 hari disini, aku sudah menangis 4 kali dengan motif yang berbeda-beda. Hahahaa

York Hotel Singapore


By: Nurri~
Www.nurlianasyaf.com

23 komentar:

  1. Wah, sampai 3 bulan disana? Aku gak bisa bayangin, senang tapi sedih karena aku paling nyaman ya di rumah ngumpul sama keluarga. Kalaupun ke luar negeri gak mau sampai berbulan -,-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mba titisss (´∀`)
      Akupun begitu. Hehee.. Tapi kalau udah tugas, ya, mau gimana lagi. Kalau memang sampai 3 bulan, aku juga gak mau 3 bulan penuh, pasti nanti minta balik dulu ke Jkt ( ´ ▽ ` )ノ

      Hapus
  2. Balasan
    1. Amin, amin...
      Tapi jangan sampailah, ya..
      Jangan sampai 3 bulan penuhh. Hahha :D

      Hapus
    2. ga sampe 3 bulan terus gaji di potong gimana mbak ? hahaha

      Hapus
    3. Enggak, kok, mas.. *tenang
      Hahha

      Hapus
    4. sekarang udah 3 bulan mbak? haha

      Hapus
    5. Alhamdulillah gk sampai 3 bulan. Hahaha...
      Dr awal memang blm pasti disana hingga kapan. Antara 2 minggu- 1 bulan sampai 3bulan. Dan pada kenyataannya aku hnya 18 hari. Hihihiii

      Hapus
    6. oh udah pulang mbak ? kirain bakal full 3 bulan.
      oleh-oleh bisa kirim via jne atau tiki kok kesini :D hahahaha

      Hapus
    7. Mau oleh-oleh? Silakan kirim alamatnya, Mas. Kebetulan ada oleh-oleh baju kotor 1 koper :)
      Hahahha

      Hapus
  3. wah, semangat ya mbak! syukuri aja dulu, bisa jalan ke singapur :)
    pasti ada hikmahnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hihiii...
      Alhamdulillah. Nikmati dan syukuri saja (^▽^)

      Hapus
  4. Waktu sekilas liat buku biru itu aku kira buku nikah beneran, eh, ternyata paspor ._. ditahan-tahan aja ya di Singapuranya
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, pasti lagi pngn nikah ya? Ehh pengen punya bukunya gitu? :p

      Iya, insha allah :')

      Hapus
  5. Kantornya apaan, nih? Asik banget bisa kerja dapet tugas sambil jalan-jalan ke Singapore. Gratis. Ada lowongan, nggak? ( mental pencari kerja )
    Berarti sekarang masih di Singapore, dong? Selamat bertahan hidup, Nur.
    Oiya, nangis dengan motif yang berbeda itu gimana? Motif batik gitu? XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kantor hukum gitu, deh :D
      Hihii, iya, alhamdulillah.
      Maaf bngt, gk ada lowongannya, kak. Hahhaha

      Hapus
  6. enak banget bisa ke singapur :3 semoga kuat ya di singapur slama 3 bln

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Hahaha

      Sekarang udah balik, kok. Gak sampai 3 bulan :p

      Hapus
  7. wah seneng banget ya 3 bulan disana ^_^ menambah pengalaman yang luar biasa di negri orang ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak sampai 3 bulan, nih, mba. Hehe..
      Iya, pengalaman yg sangat berharga :')

      Hapus
  8. senengnya...
    tapi kisah yang paling menyentuh buatku itu pas mbaknya ga tega ngebiarin bapak nunggu lama diluar. itu nyentuh banget... walaupun sang ayah juga bakalan berpikir sama. "ga tega ninggalin anaknya di kantor imigrasi sendirian hahahaha apalagi di singapura..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahha, iya, mas. Sebagai seorang anak dan seorang ayah,kita punya pasti punya perasaan sayang dan cemas :')

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^

Blog Archive

Popular Posts

Partner

Warung Blogger

Blogger Reporter Indonesia