Hanya Sebuah Diary ......

Monday, 17 July 2017

Kenapa sifat anak berbeda dengan orangtuanya? Mungkin ini penyebabnya!

Ibu dan Bapaknya baik, tapi anaknya kok gitu sih? Coba diinget-inget, aku yakin kamu dan aku yang saling menyayangi pasti pernah bertanya-tanya ketika melihat ada anak yang mempunyai sifat berbeda dengan kedua orangtua. Ibunya baik, bapaknya baik. Bukankah seharusnya tuh anak punya sifat yang baik juga?


Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Pun dengan anak yang dilahirkan kedua orangtuanya. Wajah, sifat dan tingkah laku (seharusnya) gak jauh dari kedua orangtuanya. Tapi nyatanya, ada lho anak  yang tumbuh dengan sifat yang berbeda dengan orangnya.

Misalnya aja gini. Si Bapak dan Ibunya rajin ngaji dan ke masjid. Bahkan di sanalah tempat si Ibu dan Bapak bertemu pertama kali, lalu menikah dan punya si anak tadi. Eh tapi, si anak ini malah punya kepribadian beda dengan orangtuanya. Roboro rajin ngaji dan ke masjid, sholat 5 waktu aja perlu ada perang dulu.

Nah, nah... Kok bisa gitu ya? Apa jangan-jangan tuh anak bukan anak dari emak atau bapak kandungnya? EH, WOY!!! Jangan se'udzon gitu dong. Karena pemikiran itu benar-benar kejuahan. Tapi ya kadang benar juga sih, ini salah satu faktor yang bisa memengaruhi juga.

"Tapi si anu itu emang anak kandung emak-bapaknya, gue kan nyaksiin pas dia lahiran. Tapi kok sifatnya beda jauh begitu sama orangtuanya, ya?"

Oke. Kalau kasus begini emang ada, kok. Bahkan mungkin ini pernah terjadi di lingkungan kalian. Kenapa bisa begitu, ya?

Beberapa kali, aku pernah gak sengaja mendengar pertanyaan terkait masalah ini. Dari yang aku dengar dari pencerahan itu, ada beberapa faktor yang membuat sifat atau kepribadian anak berbeda dengan kedua orangtuanya. Yuk, simak nih!

1. Karena Salah Didikan
Sering kali orangtua tidak sadar kalau apa banyak hal yang mereka ajarkan, perlihatkan, contohkan kepada anaknya itu tidak baik. Anggapan mereka, semuanya baik-baik saja. Dan perlahan, ketidakbaikan itu masuk perlahan kepribadian si anak.

Kebanyakan orangtua juga tidak sadar bahwa menuruti selalu keinginan anak bukanlah hal yang baik. Misalnya, saat anak menginginkan sesuatu; sebut saja mainan, ada orangtua yang rela melakukan segala cara untuk membeli mainan tersebut. Katanya sih kasian kalau gak dibeliin.

Mereka ingin mengerti anaknya, namun tak pernah mengajarkan pengertian kepada anaknya.
Misalnya, saat anak menginginkan sesuatu, dengan mudah orangtua menurutinya. Namun tidak memberi pengertian kepada anaknya seperti; "Nak, ini Ibu dan Bapak lagi punya uang, makanya dibelikan mainan baru. Tapi kalau Ibu dan Bapak gak punya uang, kamu harus ngerti, ya."

Hal spele ini yang menyebabkan anak tidak pengerti keadaan orangtua. Anak sering kali memaksakan kehendaknya, bahkan saat kondisi orangtua tidak memungkinkan. Padahal, kalau sejak kecil sudah diberi pengertian untuk saling memahami kondisi, Insha Allah anak akan lebih baik, sabar dan seperti yang orangtuanya harapkan.

2. Pergaulan
Pergaulan anak jaman sekarang itu emang sukses bikin hati emak-emak selalu was-was. Yang gak cuma ke bapak anak-anak, tapi anak-anaknya juga, lho. Mulai dari hal-hal kecil yang negatif, kejahatan, sampai pada pergaulan bebas dan obat-obatan. 

Emaknya baik, Bapaknya baik, tapi anaknya bergaul sama teman yang kurang bahkan gak baik. Misalnya, temennya para preman yang suka "malakin" warga pinggiran. Gak menutup kemungkinan bahwa anak akan terjerumus ikut seperti teman yang gak baik itu. Makanya, menjaga pergaulan anak itu emang penting banget. Jangan hentinya menasehati mereka untuk fokus pada pergaulan yang baik.

Kalau punya teman penjual minyak wangi, kita bisa kecipratan wanginya, lho. Karena ditawarin suruh beli minyak wangi dia terus. *laaahhh

3. Masa Lalu
Masa lalu yang sudah berlalu memang baiknya tidak usah kita ungkit lagi. Tapi, dengan segala kenyataan yang ada, masa lalu ternyata tetap mengambil perannya juga di masa depan.

Apa hubungannya anak dengan masa lalu? Yang dimaksud di sini adalah masa lalu kedua orangtuanya. Orangtua yang (sekarang) terlihat baik belum  tentu memiliki masa lalu yang baik pula. Sifat anak yang kurang baik kadang bisa disebabkan karena masa lalu orangtuanya yang tidak baik juga. Misalnya aja anak sering bolos saat jam pelajaran di sekolah. Coba Bpk/Ibu ingat kembali ke masa lalu, apakah Ibu atau Bapak pernah melakukan hal yang sama? Nah, jika iya, ternyata sifat buruk ini karena turunan dari orangtuanya sendiri. Jadi jangan heran kalau si anak begitu juga.

Aku jadi ingat ada seorang Blogger yang pernah bercerita bahwa dia sering menasehati anaknya yang senang sekali mengkonsumsi susu kental manis secara berlebihan. Lalu suatu hari dia teringat bahwa dulu, ketika dia kecil, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang anaknya lakukan. Mueheheh...

Tapi, meskipun masa lalu punya andilnya di masa depan, jangan terlalu khawatir jika kelak anak akan mengikuti jejak kenakalan/keburukan kita di masa depan. Karena dengan didikan yang baik, nasehat, dan mengajarkan pengertian tanpa bosannya, anak bisa lolos dari sifat turunan keburukan dari orangtuanya dulu kok. Salah satunya juga dengan tidak membuka buka aib kalau dulu Bapak-Ibu sering bolos pas sekolah. Cukup ceritakan masa lalu yang baik-baik aja. Namun bukan berarti menceritakan kebohongan juga, ya. Hehhe

4. Karena yang Haram
Si Ibu beli cabe sekilo. Udah ditimbang pas sekilo, pas penjualnya lagi layanin pembeli yang lain, eh cabenya ditambahin jadi sekilo lebih banyak. Kemudian cabenya dimasak dan buat makan anak-anak. Duh, itu lebihan dari 1 kilo itu termasuk yang haram lho, Bu. Terus yang haram itu dimakan dan masuk ke tubuh anaknya deh. 

Kata mamah Dede, ternyata sesuatu yang haram itu bisa tumbuh dan berkembang menjadi perilaku-perilaku negatif. Bisa jadi penyebabkan kenapa anak tidak baik itu ya karena sesuatu yang haram tumbuh di tubuhnya. Gitu lho yang aku dengar dari ceramah. *uhuks

5. Kurang Doa dan Perhatian
Setiap orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun ternyata ada orangtua yang gak mau perhatian sama anaknya. Mau ini mau itu, yaudah, terserahmu aja, Nak. atau, "Dia udah besar, kok. Udah bisa jaga diri sendiri." Bahkan ada pula orangtua yang kurang bahkan tidak pernah mendoakan anaknya.

Kalau dengar dari ceramah-ceramah, selain didikan nyata dari orangtua, keluarga, dan lingkungan sekitar, Doa juga ikut ambil andil dalam pertumbuhan anak. Karena doa adalah "jalur" dimana orangtua meminta segala kebaikan untuk anaknya kepada Tuhan, sang penciptanya.
Percaya gak percaya, kekuatan doa sangat kuat, apalagi doa Ibu untuk anaknya.
***

Meskipun belum menikah dan belum memiliki anak, sedari dini aku belajar untuk mempersiapkan diri bagaimana mendidik anak nanti. Dalam postingan ini, aku berharap bisa jadi catatan penting di masa depan yang bisa aku pelajari.

5 point yang aku sebutkan di atas merupakan hasil rekap dari berbagai sumber penceramah yang pernah aku dengar. Juga dari hasil dari pengamatan sifat atau kepribadian pada Kakak dan anaknya. Hahahah...

Mohon maaf jika ada salah kata.
Semoga bisa bermanfaat :)
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^

Scroll To Top