Yang Tak Kembali Setelah Ibu Pergi

Pernah kalian berpikir tentang sebuah kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya? Atau sederhananya, pernah kalian berpikir tentang kasih sayang Ibumu kepadamu? Seorang anak yang menyayangi Ibunya pasti tau betul betapa besar dan berharganya kasih sayang Ibu kepada dirinya. 



Namun sayangnya, masih banyak dari kita yang tidak sadar dan sering mengabaikan kasih sayang orangtua, terkhusus seorang Ibu. Tidak sedikit pula anak yang sering membantah dan melawan orangtuanya. Bahkan sampai ada yang menganiaya. Naudzubillah, deh. Kamu jangan, ya!

Tentang seorang Ibu, pernah suatu siang yang hening, aku mendapat sebuah broadcast di aplikasi BBM. Begini isinya:
"ADA PINTU SYURGA DI RUMAHMU?" 
Seorang sahabat Nabi yang mulia Iyas bin Mu'awiyah menangis sejadi-jadinya ketika salah satu dari anggota keluarganya meninggal, maka seseorang bertanya : "Mengapa Anda menangis sedemikian rupa"?, 

Maka dijawab :"Tidaklah aku menangis karena kematian, karena yang hidup pasti akan mati, akan tetapi yang membuatku menangis karena dahulu aku memiliki dua pintu ke syurga, maka tertutuplah satu pintu pada hari ini dan tidak akan di buka sampai hari kiamat, aku memohon pada Allah agar aku bisa menjaga pintu yg ke dua". 
Ternyata yg meninggal adalah Ibu yang dicintainya. 

Sahabat Syurgaku..,Kedua orang tua adalah dua pintu menuju syurga, yang kita dpt menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang.

Rasulullah Saw bersabda: "Orang tua adalah pintu syurga yang paling tengah, maka jangan sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia". (HR. Tirmidzi).

Pintu syurga yang paling tengah, yang paling indahnya, yang paling eloknya. Maka masihkah engkau sia-siakan pintu itu? Bahkan engkau haramkan dirimu tuk memasukinya?Dengan mengangkat suaramu di hadapannya?Dengan membentaknya di kala tulang-tulangnya semakin lemah karena di makan usia, Sementara tubuhmu yg berotot kekar dahulu telah di basuh kotoranmu dengan tangannya yg kini tak bertenaga.
Rasulullah Saw bersabda : 

"Celaka, celaka, celaka ! , dikatakan pada beliau, siapa wahai Rasulullah? Maka beliau bersabda : "Siapa saja yang menjumpai kedua orang tuanya, baik salah satu atau kedua-duanya di kala mereka lanjut usia, akan tetapi (perjumpaan tsb) tidak memasukannya ke syurga. (HR. Muslim)

"Ya Allah, berilah kami kesempatan dan rizki untuk berbakti kepada kedua orang tua kami, dan kumpulkanlah kami bersama mereka di syurga-Mu yg penuh kenikmatan " Aamiin.
Ntah dari mana asal-usul sumber dari cerita itu, yang pasti, dari situ, aku jadi teringat cerita seorang Bapak Ojek yang pernah mengantarku saat pulang kerja.

Saat diperjalanan, awalnya beliau menanyakan pekerjaanku hingga akhirnya obrolan kami mengarah ke Ibu si bapak itu. Katanya, Ibunya adalah seorang wanita yang kuat. Iya mampu bertahan dengan bapaknya yang sudah tidak bekerja selama 20 tahun. Ia adalah seorang wanita yang sabar meskipun dalam keadaan ekonomi yang kurang. 

"Trus, sekarang Ibu masih ada, Pak?" Tanyaku dengan rasa penasaran.

"Kalau Ibu saya masih ada, saya gak mungkin jadi tukang ojek, Mbak." ucapnya dengan penuh keyakinan.  "Kan dia yang selalu ngedoain saya. Makanya kemarin saya sukses kerja dimana-mana, gaji besar dan bisa punya usaha. Sayang aja dulu saya ketipu. Trus ini karena Ibu saya udah gak ada, jadi gak ada lagi yang ngedoain saya lagi, makanya saya jadi tukang ojek" lanjutnya dengan suara lirih.

Ahh, iya..
Aku jadi teringat ucapan ibu yang selalu bilang padaku bahwa yang benar-benar hilang ketika orangtua sudah tiada bukanlah kasih sayangnya. Bukan perhatiannya, bukan masakananya, tapi adalah  Pintu surga dan doanya.

Ketaatan dan bakti kita kepada orangtua adalah amalan kita agar bisa mendapat tempat terindah di Surga. Dan betapa berharganya baitan doa dari kedua orangtua kita, terutama Ibu. Dia bisa mengubah nasib buruk kita menjadi lebih baik. Doanya bisa menjadi penyembuh ketika kita sakit. Iya, ridho Ibu yang begitu besar membuat Allah ikut meridhoi kita. 

***

Aku menyimpan tulisan ini dalam draft sejak bulan Juni tahun 2017. Karena satu dan hal lainnya, aku tidak bisa melengkapi potongan-potongan kalimat yang ada dalam draft ini. Dan hari ini, alhamdulillah aku berhasil menyelesaikannya. Namun ketika postingan ini terbit, aku harus menyadari bahwa saat ini aku sudah kehilangan satu pintu surga dan tak akan lagi mendapat keridho-an doa dari seorang Ibu.


Baca juga :
Perjalanan Singkat Ibu Sebelum Gagal Ginjal
Ibu dengan Gagal Jantung dan Gagal Ginjal
Ketika Ibu Pulang

4 comments:

  1. Saya suka kata-katanya. Bahwa sesungguhnya di dalam rumah itu ada pintu rumah bagi seorang anak dan pasti ketika seorang anak perempuan telah menikah, suami akan menjadi pintu le syurgaNya. Mksh sharingnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, iya, Bun.
      Semoga banyak yang sadar akan hal ini, ya.

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^