Traveling Dadakan ke Bromo Tengger

Kenyataan yang sampai saat ini masih aku ingat jelas adalah ketika Ibu, Bapak, Kakak, Suaminya, Adik, Keponakan, dan Pakde bersama-sama datang ke Puspo-Jawa Timur, atau tepatnya mengunjungi rumah Mbah (yang sekarang udah almh). Naik kereta "mahal" dan jalan-jalan ke gunung bromo dengan keluarga besar di Puspo. Aku yang gak ikut cuma bisa melihat keseruan perjalanan mereka lewat kamera digital yang Bapak beli beberapa minggu sebelum perjalanan ke Puspo.


Ya, itu sekian tahun yang lalu. Ketika aku dengan nurutnya ditinggal di rumah bersama kakak. Pengen ikut sih. Tapi ntah kenapa waktu itu aku lebih fokus untuk ujianku, karena emang gak ada pilihan lain. Meskipun sebenarnya aku juga pengan banget ikut. Tapi mau gimana lagi, kan? Ujian Nasional Sekolah Dasar sudah di depan mata. Sungguh tidak mungkin kalau aku izin sekolah cuma buat ikut jalan-jalan. Huhuhu

Kuanggap itu perjalanan yang aku impikan, namun tidak bisa aku wujudkan karena terhalang keadaan. Sejak itu, aku seperti berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, aku harus bisa menginjakkan kaki di sana. Ya, meskipun terbesit tanya, apa mungkin bisa? Terlebih dengan kondisi keuangan dan keadaan Ibu yang sakit-sakitan.

Tapi setelah sekian tahun berlalu, November 2016, akhirnya, rencana liburanku bukan cuma wacana doang. Tapi akan segera terwujud karena tiket kereta api ke Malang (waktu itu) sudah di booking. Gak hanya ke Malang, aku juga akan menyempatkan diri mampir ke Jogja untuk beberapa hari.

Perjalananku dari Jakarta ditemani Anggita, mantan teman SMP yang masih selalu berhubungan denganku sampai sekarang. Datangnya aku ke Jogja juga karena akan mampir dan menginap di rumah Mbahnya yang ada di Bantul. Sekalian, menghadiri acara pernikahan salah satu saudaranya.

November 2016. 
Beberapa hari sebelum hari H, kabar kedatanganku ke Puspo mulai terdengar di keluarga di sana. Setelah ngobobrol-ngobrol, beberapa saudara mulai bertanya, "Rumah Bude kan deket sama Bromo. Gak sekalian jalan-jalan ke Bromo aja?"

Ahiya. Dari dulu kan pengen ke Bromo. Tapi kayaknya gak memungkinkan kalau sekalian main ke sana, karena budget terlalu pas-pasan sampai akhirnya, aku memutuskan hanya mengunjungi Museum Angkut di Malang dan cuma main-main di rumah bude saja, karena untuk main ke tempat lain, lokasinya sangat jauh dari rumah bude.

Hari itu pun tiba.....................
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam menggunakan kereta api dari Jakarta, akhirnya aku tiba di Malang. Setibanya di stasiun Malang, aku menyempatkan diri datang ke Alun-alun Batu dan Museum Angkut. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan ke rumah bude, yang berada di daerah Pasuruan.

Waktu perjalanan kami ternyata diluar dugaan. Selesai bermain-main di Museum Angkut dan melaksanakan Sholat Ashar, ternyata waktu sudah menunjuk pukul 4 Sore. Keluarga di rumah juga sudah menanyakan kenapa aku belum kunjung datang. Mereka takut kami kesasar, karena memang ini adalah perjalanan pertama kami. Hanya berbekal google maps dan arahan dari keluarga, kami memberanikan diri datang ke sini.

Waktu yang semakin sore membuat kami cemas. Kami harus segera menuju rumah bude, yang lokasinya lumayan jauh. Perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan transportasi mobil online dari Musem Angkut ke Terminal Arjosari. Setelah itu, kami naik Bus jurusuan Pasuruan. Di pertigaan jalan Warung Dowo, kami sudah dijemput Mas Pendi dan Erwin dan 2 ojek motor yang akan mengantar kami ke rumah bude. Yap, waktu itu pukul 6 sore.

Anak perawan di kota orang. Sempat ada Ibu-ibu (di dalam bus) yang bertanya kami darimana. Lalu mengherankan keberanian kami, malam-malam di kota orang, dan tak tau jalan. HUahahaha..... Ibu memang benar, seperti Ibuku yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan aku. Tapi ya, gapapa. Insha allah kami tetap selamat sampai tujuan. Hehhee

Malam itu, Sekitar pukul 7.30 , akhirnya kami sampai di rumah bude. Lalu beristirahat sejenak, dan pagi-pagi akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Yeaaaayyyyy.......

Traveling Dadakan ke Bromo Tengger
Eh, kenapa bisa ke Bromo? Katanya gak punya duit, kok malah jadi ke Bromo?
Semua bermula ketika Pak Supri, Bpk Ojek yang malam itu hendak mengantarku ke rumah Bude memulai percakapan tentang Gunung Bromo. Katanya, "Mumpung di sini, sekalian aja main ke Bromo. Pake motor, gak sampai 1 jam udah nyampe. Banyak tuh dari Jakarta ke sini cuma buat ke Gunung Bromo. Saya punya langganan juga dari Jakarta. Kalau dia ke sini, saya yang antar dia ke Gunung Bromo."

Ohiya. Ternyata, Pak Supri ini masih punya ikatan saudara jauh dengan Ibu. Profesinya sebagai Ojek Sepeda alias Motor. Nah, Masku sengaja minta bantuan dia untuk mengantar-jemput saya selama di Puspo.

Eh, bentar. ke Bromo? Pake motor? Kayaknya seru. Mau, sih. Tapi.................
Dulu, Ibu pernah ke sana juga. Tapi rame-rame dan sewa mobil. Biaya yang diperlukan juga gak sedikit. Pun dengan bayangan saya nih, kalau ke sana itu membutuhkan uang yang banyak. Belum buat transportasinya, terus  buat makan dan jajannya, terus oleh-olehnya, terusss... terusss.......

"Kalau ke Bromo pake motor gitu, biasanya bayar berapa, Pak? 
Aku mulai berani menanyakan biaya. Pengen sih. Tapi kalau harganya benar-benar gak sedikit, terus nanti gimana nasib saya di Jogja? 

"Ya, saya mah sedikasihnya aja."  Jawabnya.
"Tapi kira-kira berapaan tuh, Pak?" Tanyaku yang masih penasaran 
"Paling ya sekitar 80-100rb untuk 1 motor."

WAH,  MURAH! 
Mendengar nominal yang ternyata masih manusiawi banget, hasrat ingin ke bromo mulai memuncak.
Boleh juga nih! Pun dengan Anggita, dia langsung oke tanpa penolakan.

Keesokan paginya di Puspo. Sesuai kesepakatan semalam, kami jadi jalan-jalan ke Bromo. Awalnya janji untuk jalan pagi sebelum matahari terbit, namun karena suatu hal, akhirnya kami baru jalan sekitar jam 9 pagi. Tapi gapapa juga sih. Cuaca cerah-cerah dingin. Jadi masih oke aja untuk otw. Kalau di Jakarta sih, jam 9 juga udah gersang, yak. Hihihi...

Perjalanan dari rumah bude ke gunung bromo gak terlalu jauh, bahkan gak sampai 30 menit. Rute yang kami lalui tentu aja dari Puspo dan lewat Tosari. Pemandangan dalam perjalanan sangat aduhai indahnya. Aku sampai terkagum-kagum.

Sesampainya di lautan Pasir (sebelum gunung bromo), aku menyempatkan diri untuk narsis. Hihi




Puas bernasis ria, barulah kami melanjutkan perjalanan. Yaitu naik-naik ke puncak gunung :D
Foto di atas adalah track yang harus kami lalui setelah turun dari motor. Ini adalah jalan menuju tangga. Track pertama ini bisa kita lalui dengan jalan kaki atau naik kuda, Gaes. Untuk menambah keseruan, lebih enak jalan kaki aja sih. Apalagi kalau beramai-ramai, jalan kaki jadi gak berasa.



Nah, setelah berhasil melewati track pertama, kita akan bertemu tangga untuk menuju ke atas. Ada berapa tangga? Ratusan! Rasanya lumayan banget melewati anak tangga ini. Cukuplah bikin ngos-ngosan. Apalagi buat kita-kita yang jarang gerak. Huaaaa..

Sesampainya dipuncak sana, kita bisa melihat langsung kawah dari gunung bromo. Juga pemandangan indah sekitar gunung yang aduhai banget. Pas udah di atas sini, rasanya betah dan gak mau pulang deh. Tapi tetap hati-hati dan jaga keselamatan, ya!


Yang namanya abis naik-naik, tentu aja udahnya kita harus turun. Dan ini subhanallah banget capeknya. Ngahahah! Jujur deh, lututku sampe gemeter pas nurunin tangga menuju lautan pasir.  Rasanya kayak mau nanya...... Lift mana lift? Atau eskalator deh! Seperti tak sanggup jika harus menuruni anak tangga ini.

Tapi enggak, deh. Aku mah setrongs. Alhamdulillah bisa kembali sampai di bawah menapaki satu persatu anak tangga ini. Hafffff


Berhasil sampai di lautan pasir, perjalanan dari Gunung Bromo kami lanjut menuju Wisata Penanjakan. Nah, lokasinya gak terlalu jauh dari sini. Tapi , kita harus nanjak ke atas (arah pulang), lalu belok ke kanan menuju Penanjakan. Kata Pak Supri, di sana nanti kita bisa melihat pemandangan gunung dengan lebih jelas lagi.

Ehiya. Ada cerita menggelitik ketika hendak menuju Penanjakan. Di perjalanan, kami harus melewati drama motor mogok karena gak kuat nanjak. Yaitu motor yang ditumpangi Anggita plus Bapak ojeknya, dan Motor Mas Pendi Plus Erwin. Motor yang membawaku? Alhamdulillah, aman! Tapi aku tetap merasakan nanjak jalan kaki buat nemenin Anggita yang motornya mogok. Dan sampai akhirnya, aku dan anggita naik satu motor bersama Pak Supri, untuk sampai di Penanjakan. Iya, kami Triceng, alias 1 motor bertiga gitu. Sayang, aku gak punya dokumentasi foto ketika motor mogok. :D


Sesampainya di Penanjakan, kami harus menuju dataran yang lebih rendah. Dan sesampainya di lokasi, ternyata langit siang itu kurang bersahabat. Pemandangan indah yang seharusnya bisa kami nikmati dari ketinggian ini malah tertutup kabut tebal. Hawa di sini juga dingin banget. Jadi, terpaksa kami hanya menatap kabut-kabut tebal itu, sembari nyantai-nyantai.

Sekitar 20 menit kemudian, keberuntungan berpihak pada kami. Kabut tebal perlahan mulai hilang. Dan, ya, akhirnya kami bisa menikmati pemandangan di bawah sana. Gunung, Kabut, Awan, lauan pasir, pepohonan dan perbukitan kami lihat dalam satu pemandangan.


Setelah puas berlama-lama di sini, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Hari memang masih siang, tapi aku harus segera sampai di rumah bude untuk kemudian ziarah ke makam Mbah. Yap, pesan dari Ibu di rumah, aku harus Ziarah ke makam Mbah cewek dan Mbah Cowok. Secara, aku memang jarang sekali mudik ke sini
Tapi sebelum otw, foto-foto dulu lah, ya :)


Rasanya sungguh abcd banget. Seneng dan gak nyangka, akhirnya bisa datang ke tempat ini. Ya, meskipun dadakan, tanpa perencanaan. Dengan bermodalkan 100k dan naik motor, aku bisa datang ke Gunung Bromo dan Penanjakan untuk melihat keindahan ciptaan Allah yang memang udah lama sekali aku dambakan.

Kebahagiaan juga ditambah karena wisata gunung bromo sepi pengunjung. Apalagi wisata penanjakan, hanya kami yang berkeliaran di sini. Nikmat mana lagi yang kudustakan? Inilah liburan yang sesungguhnya. Benar-benar bisa menikmati. Hihihi

***
Alhamudlillah, ya. Satu per satu impian dan harapan bisa terwujud. Termasuk Perjalanan ke Malang, Puspo, Jogja, dan Gunung Bromo. Ini adalah cerita singkat perjalanan pertamaku dalam catatan sejarah bisa ke luar kota. Untuk perjalanan lengkap pas di Jogja, semoga bisa terbit juga, ya. Plus perjalanan ke Bali akhir tahun 2017. Hihihihi, aamiin... 

8 comments:

  1. Sepertinya ide bagus. Sewa motor aja ke Bromo, biar kesampaian. Tapi jadi ga bisa sunrise di Penanjakan ya? Hmmm ga pa-pa lah. Daripada enggak kesampaian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IYa, Mba Dian. Next baru deh rasain Sunriise nya

      Delete
  2. wiih kerenlah bromo ini tapi belum sepat mampir ke sini

    ReplyDelete
  3. Dari dulu pingin banget ngetrip ke Bromo, tapi gak kesampean, huhu. Enak ya jalan-jalan terus, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jadi juga karena dadakan. Hahah.
      MUngkin next harus ada traveling dadakan biar jadi :D

      Delete
  4. Wih sepi yaa,, bisa puas jungkir balik itu nuy,,

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^