Ketika Ibu Pulang

Kamis, 7 Desember 2017. Keinginan Ibu untuk pulang ke rumah terwujud. Bahkan, kali ini, Ibu tak perlu memohon-mohon kepada dokter. Ibu kembali pulang dengan ambulance dan ranjang tempat tidur Rumah Sakit seperti beberapa hari yang lalu.


Kami, keluarga, dan tetangga juga menyambut kepulangan Ibu. Namun bukan dengan kebahagiaan akan kesembuhan Ibu dibolehkan pulang oleh dokter, dengan air mata, dengan tangisan yang tak bisa ditahan. Ya, malam itu Ibu pulang kepada sang Pencipta. Pulang ke tempat keabadian. Hanya Jasadnyalah yang dibawa oleh Ambulance itu.

Sehari sebelumnya, 6 Desember 2018. Menjelang sore, Kakak mengabarkan bahwa Ibu mengalami sesak napas. Ya, saat itu aku sudah berencana akan datang ke rumah sakit sepulang kerja nanti. Awalnya, aku berpikir Ibu mengalami sesak biasa, sama seperti sebelumnya. Namun menjelang malam, Kakak mengabarkan bahwa sesak napas Ibu parah seperti dulu (sampai enggap-enggapan).

Malam Sepulang kerja aku tiba di Rumah Sakit. Ya, aku melihat kondisi Ibu tengah duduk di ranjang kasur dengan oksigen yang membalut diantara hidung dan mulut. Napasnya benar-benar berat. Iya mengambil napas sedalam mungkin.

Sattu hal yang benar-benar aku ingat saat itu adalah Ibu mengulurkan tangannya untuk aku cium. Ya, jika biasanya aku yang menarik tangannya untuk aku salami, kali ini dialah yang menyodorkan tanggannya langsung kepadaku. Kata kakak, hal ini juga dia lakukan kepada anak-anaknya yang datang ke rumah sakit.

Aku juga ingat, malam itu, Ibu mengajak bicara Kakak Pertamaku. Diantara napas yang berat, dengan pelan ia bilang kepada Kakak, "Ibu udah gak kuat". Kakakpun terus menyemangati Ibu. Ibu harus kuat, yaa. 

Hal ini bukan pertama kali terjadi. Saat itu, ntah kenapa tak ada sedikitpun perasaan akan ditinggalkan Ibu. Dengan keyakinanku, aku berpikir positif bahwa Ibu bisa melewati ini. Ya, Ibu akan sembuh.

Sekitar pukul 10 malam, kondisi Ibu mulai membaik meskipun napasnya masih sangat berat. Kakak mengajak adik dan keponakan pulang karena besok akan sekolah dan mereka sudah mendekati Ujian. Aku yang merasa sakit  punggung  pun memutuskan untuk ikut pulang. Hanya Kakak nomor 4 dan Bapak yang menjaga Ibu di RS.

Sesampainya di rumah. Aku tak bisa tidur. Namun punggung masih terasa sakiti sekali. Jam 12, akhirnya aku bisa memejamkan mata. Tapi sekitar pukul 1 dini hari, teleponku berdering panggilan masuk dari Bapak. Ya, di kesunyian malam itu, Bapak mengabarkan jika Ibu telah tiada.

Rumah Tanpa Ibu
Allah memang maha berencana. Rencananya membuat Ibu sakit hingga keluar-masuk rumah sakit dalam 1 tahun penuh membuat kami, anak-anaknya menjadi sedikit terbiasa tanpa Ibu di rumah. Ya, kami yang tadinya selalu mendapat kehangatan kasih sayang Ibu di rumah menjadi terbiasa mandiri tanpa Ibu.

Ketika suasana sepi pasca kepergian Ibu, kadang kami berpikir bahwa suasana ini sama seperti saat Ibu di rumah sakit. Ya, tak adanya Ibu di rumah sering kami membuat kami menganggap bahwa Ibu masih ada, tapi Ibu di rumah sakit. Namun, ketika tersadar, rasanya sungguh menyakitkan jika mengingat saat-saat Ibu di rumah sakit, "disakiti" suster dengan banyak tusukan jarum. Saat itu kami tersadar, mengikhlaskan dan menyadari bahwa Ibu sudah tiada itu adalah hal yang seharusnya.

Namun satu hal yang harus selalu kami ingat adalah, Ibu tidak benar-benar meninggalkan kami. Meskipun jasad dan nyawanya sudah tidak ada di sini, kami percaya bahwa Ibu selalu bersama kami. Menyambutku ketika pulang kerja. Menyiapkan makanan meskipun melalui Bapak.


***
Ternyata Butuh keberanian yang sangat dasyat untuk menulis cerita dalam 3 postingan ini. Postingan yang sebenernya cuma aku ketik satu kali dan gak aku baca ulang lagi. Karena gak sanggup. Hahhaa
Jadi mohon maaf kalau rada gak nyambung atau banyak typo nya, ya. Wkwkwwkw

Perjalanan Singkat Ibu Sebelum Gagal Ginjal
Ibu dengan Gagal Jantung dan Gagal Ginjal
Ketika Ibu Pulang

6 comments:

  1. Peluk nuy.. Sekarang percakapan nuri sama ibu hanya bisa melalui al-fatihah. Jangan pernah putus doain ibu ya Nuy..

    Aku pun sampai saat ini masih merasa seakaan akan ayahku ada, tapi di rawat di RS. Apalagi kalau lewat RS. Pertamuna, bawaannya mau belok dan jenguk ayah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhuu, Iya, Mba Cin.
      Kalau aku, justru selalu menghindari buat gak lewat atau liat rumah sakit itu hhahaa

      Delete
  2. Nuy....sedih banget baru baca...
    Hug virtual

    Alloh lebih sayang ibuk ya, moga ibuk tenang di sana, di tempat paling indah
    Insyaalloh dikuatkan nuy dan keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehhe, iya. Aamiin..
      Makasih Mba Nittaaa

      Delete
  3. Kisah ibu mbak nggak jauh beda dengan kakak dari ibu saya. Saat itu saya juga sedih. Smoga ibu mbak diberi tempat terbaik disisi Allah swt.. Amin

    ReplyDelete
  4. Kisah ibu mbak sama dengan kakak dari ibu saya. Saat itu saya juga sedih. Smoga ibu mbak diberi tempat terbaik di sisi Allah swt. Amim

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^