Perjalanan Singkat Ibu sebelum Gagal Ginjal

Memasuki tahun 2017, ada banyak hal baru yang harus aku dan keluarga rasakan. Terutama tentang kehidupan dan keseharian kami. Bukan hanya adanya hal baru, berbagai perubahan hidup juga kami rasakan. Ritme yang tadinya stabil, perlahan mulai tidak stabil. 

Ibu, seorang wanita yang 22 tahun umurku selalu hidup bersama denganku. Seorang Ibu yang lahir pada tahun 1961. Dalam perjalanan hidupnya, Ibu menderita gangguan fungsi jantung sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, yaitu sekitar tahun 2005.

Yang aku tau, Ibu mengalami penyempitan jantung atau lemah jantung. Setiap kali sakitnya kambuh, Ibu mengalami sesak napas, gemetar, keringat dingin, dan lemas disekujur tubuhnya. Jika kondisi tidak terlalu parah, Ibu hanya istirahat total di tempat tidur. Jika sesaknya parah, Ibu dilarikan ke rumah sakit.

Karena kondisi jantung ibu yang perlu pengobatan khusus, Ibu diharuskan rutin check up ke rumah sakit setiap satu bulan sekali. Dan semenjak itu, alhamdulillah kondisinya stabil dan jika kambuh, tidak separah sebelumnya, bahkan tidak mewajibkan Ibu dibawa ke rumah sakit

Berteman dengan Rumah Sakit

Dalam satu bulan sekali, Ibu selalu datang ke RS untuk melakukan check up dengan dokter jantung. Setiap kali check up, kondisi Ibu masih bisa menggunakan angkutan umum menuju RS yang tidak terlalu jauh.

Namun hari itu, diawal tahun 2017, Rumah Sakit seolah ingin berteman lebih dekat dengan kami. Selain check up setiap satu bulan sekali, Ibu sering dilarikan ke RS juga. Waktu itu, aku mengantar ke UGD ketika Ibu mengalami pusing yang hebat karena gula darahnya tinggi. Tak lama kemudian, Ibu dilarikan ke RS lagi karena tensi yang tinggi. Lalu kembali ke dibawa ke UGD karena terbentur kayu penghalang yang menyebabkan kepala ibu mengalami pusing. Lalu terakhir aku ingat, aku membawa Ibu ke UGD karena terpeleset di kamar mandi. Padahal, hari itu adalah jadwal Ibu check up ke dokter jantung. Namun karena terpeleset di kamar mandi, Jantung Ibu kambuh dan mengalami sakit kepala, aku membawanya ke UGD dan dilakukan CT Scan kepala. Saat itu, yang di rumah hanya ada aku dan Ibu, karena Bapak sudah di RS untuk mendaftar check up Ibu.

Ketika keanehan itu datang
Semua bermula ketika Ibu mengalami gatal-gatal. Awalnya, Ibu merasa gatal-gatal pada punggungnya. Kami hanya mengira bahwa itu hanyalah gejala alergi atau karena perubahan cuaca. Segala cara untuk mengobati kegatalan itu dilakukan. Ibu rutin memberikan minyak kayu putih, balur daun sirih, bedak dan beberapa cara untuk menghilangkan gatal. Namun tidak pernah mengkonsumsi obat minum. Karena memang Ibu tidak bisa mengkonsumsi obat jika bukan anjuran dokter Jantungnya.

Setelah gatal mulai mereda, Ibu mengalami pembengkakan di bagian kaki. Gejalanya mirip dengan bengkak kaki pada wanita hamil. Awalnya, bengkak hanya terjadi dibagian kaki. Jika ibu melakukan banyak aktivitas, atau berjalan, bengkaknya semakin menjadi dan mengeras.

Karena kondisi itu, Ibu memberitahu Dokter jantung setiap kali Ibu melakukan pemeriksaan, dan dokter menyebutkan bahwa bengkak itu adalah penumpukan cairan akibat reaksi dari gangguan fungsi Jantung. Untuk mengatasinya, dokter memberikan obat untuk mengeluarkan cairan bengkak tersebut melalui air kencing.

Setelah mengkonsumsi obat itu, tidak ada perubahan yang dirasakan. Ibu masih saja mengalami penumpukkan cairan. Bahkan tidak hanya dibagian kaki, cairan itu mulai naik ke betis, ke paha, ke perut sampai ke leher.

Karena bengkak semakin menjadi, Ibu beberapa kali dilarikan ke UGD. Bukan hanya bengkaknya, Ibu juga mengalami sesak nafas. Namun jawaban dokter hanya menganjurkan untuk terus mengkonsumsi obat untuk mengeluarkan cairan pada bengkak tersebut.

Sempat mencari info di Mbah google terkait keluhan yang Ibu rasakan, dari yang kami baca, google memberitahu kami tentang penyakit ginjal. Agak terdiam juga denngan informasi tersebut. Apa iya, Ibu menderita penyakit ginjal? Sedang dokter memberitahu bahwa ini hanya reaksi dari jantung yang tidak berfungsi dengan baik.

Aku ingat betul. Selain check up tiap bulan, Ibu 3x dibawa ke UGD dengan keluhan yang sama, yaitu bengkak dan sesak. Pada pemeriksaan yang terakhir, Kakak sempat bertanya kepada dokter yang menangani Ibu terkait penyakit ginjal. Namun, Dokter dengan keyakinannya memberitahu kami bahwa BISA DIPASTIKAN penyebab bengkak ini hanya karena dari Jantungnya saja. Tidak ada penyakit lain yang menjadi penyebab bengkak dan sesak pada tubuh Ibu. Ya, aku ingat betul moment itu. Dokter lelaki dengan usia yang kira-kira baru 35 tahun dengan tubuh agak gemuk dan putih. Seenaknya dia membuat kepastian tanpa melakukan pemeriksaan.

Merasa tidak ada perubahan meskipun sudah mengkonsumsi obat tersebut, akhirnya aku dan kakak membawa Ibu ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Awalnya kami ragu membawa Ibu ke sini, takut tidak diterima jika menggunakan BPJS karena lokasi RS yang bukan di wilayah kami. Namun setelah berdiskusi dengan teman sekantor, akhirnya aku memberanikan diri membawa Ibu ke sini.

Juni 2017
Waktu itu malam bulan Ramadan dan sepulang kerja. Sesampainya di IGD, satpam menyambut kami dengan membawakan kursi roda untuk Ibu. Saat itu, satpam membisik kepada kami, "wah, udah bengkak, ya, Bu." sambil mengantar kami ke ruang pemeriksaan

Memasuki ruang pemeriksaan, beberapa dokter mendekat untuk melihat kondisi Ibu. Berbagai pertanyaan pun di lontarkan. Tak lama kemudian, dokter sudah mendiagnosa bahwa kemungkinan besar ginjal Ibu bermasalah, namun akan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Untuk menghilangkan pembengkakan cairan, Ibu diminta untuk melakukan rawat inap.

Setelah menjalani pengobatan sekitar 2 minggu, keadaan Ibu kembali membaik. Badannya tidaak lagi bengkak, tidak pucat dan tidak sesak. 3 hari istirahat di rumah, Ibu kembali ke RS Jantung Harapan Kita untuk check up sekaligus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan moment paling menegangkan itu terjadi. Dari hasil pemeriksaan, Ibu positif mengalami kelainan atau gangguan fungsi ginjal.

Setelah beberapa hari di rumah, keluhan itu kembali datang. Ibu mengalami bengkak dan sesak yang mengharuskan dibawa ke RS lagi. Saat itu kami sudah tau, bahwa penyebabnya bukan hanya dari Jantungnya, tapi tak tepas dari ginjal yang berfungsi dengan normal. Rumah Sakit dekat rumah, yang memastikan bahwa Ibu hanya menderita penyakit jantung terpaksa menjadi pilihan kami. Karena rumah sakit itu adalah terdekat dan memang menjadi RS yang mengobati ibu dari awal menderita gangguan jantung.

Juli 2017 setelah Idul Fitri
Di Instalasi Gawat Darurat, ada moment yang cukup mengesalkan, adalah ketika salah satu dokternya bertanya, "Sakit ginjalnya udah lama, ya?"

Hah? Nanya sakit ginjalnya udah lama? Padahal baru 1 bulan lalu aku membawa Ibu ke Rumah Sakit ini, dan dokter di sini yang memastikan bahwa Ibu hanya sakit jantung. Lalu sekarang, seenaknya mereka bertanya, "sudah lama, ya?" karena melihat kondisi Ibu yang cukup serius.
Tapi yaudahlah. Gak usah kesel atau gimana. Toh, dokter yang bertanya berbeda dengan dokter yang waktu itu memberi kepastian.

Hari itu, Dengan kondisinya yang sesak dan bengkak pada sekujur tubuh, dokter meminta Ibu untuk melakukan rawat inap di rumah sakit. Dokter Penyakit Dalam dan Dokter Jantung menjadi Dokter spesialis yang menangani Ibu.

Rawat Pertama setelah dinyatakan gangguan fungsi ginjal. Alhamdulillah, hasil pemeriksaan menyatakan ibu masih dalam kondisi baik. Kondisi yang tidak mengharuskan Ibu untuk Cuci darah. Kami pun berusaha agar Ibu bisa sembuh. Kami juga membawa Ibu ke pengobatan  herbal. Dan kakak memberikan air rebus batang serai yang dipercaya bisa mengeluarkan racun, atau khasiatnya yang sama dengan cuci darah. Ya, alhamdulillah kondisi Ibu mulai stabil, meskipun bengkak masih terjadi, tapi Ibu masih terlihat segar, tidak sesak dan bisa berjalan.

Setelah Ibu dibolehkan pulang, 2 minggu tinggal di rumah, sesak dan bengkak itu kembali datang. Kali ini semakin menjadi lagi. Wajah ibu terlihat gemuk alias bengkak karena ada penumpukan cairan. Dan kami terpaksa membawa Ibu kembali ke Rumah Sakit.

Rawat kedua setelah dinyatakan gangguan fungsi ginjal, kami harus menerima kenyataan baru bahwa ginjal Ibu semakin lama semakin mengalami penurunan. Kita sebagai orang awam mengenalnya bahwa kedua ginjal sudah mengalami Gagal fungsi.

Ya, secepat itulah perjalanan Ibu sampai akhirnya dinyatakan Gagal Ginjal. Bahkan, beberapa hari setelahnya, kami harus mendapat kenyataan pahit lagi bahwa Jantung Ibu juga sudah mengalami kegagalan fungsi jantung.

Baca cerita selanjutnya: Ibu dengan Gagal Jantung dan Gagal Ginjal

4 comments:

  1. Memangnya dokter tanya sakit ginjalnya udah lama" enggak koordinasi sama dokter ibu yg sblmnya nuy?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena beda Rumah Sakit, Mba Cindra.
      Kan kalau di RS itu, Ibu cuma dibilang sakit Jantung aja. Penyebab bengkak dll katanya emang dari Jantung. Nah, Pas ketahuan sakit Ginjal nya itu dibawa ke RS HarKit Jantung, Mba Cindra.

      Delete
  2. memang sih jantung berhubungan dg gibjal, kalau jantung bermasalah pasti ginjal juga ya, krn satu sistim

    ReplyDelete
  3. Masya Allah, bisa begitu ya..baru ketahuan sakit ginjalnya..
    Seringkali penyakit lain tak terdeteksi bisa jadi dokter tidak melakukan pemeriksaan total (termasuk laborat, scan, rontgent dan lainnya...)
    atau apa ya..kasihan ibu jadinya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^