Mak, Pak, Mas, Aku Datang

"Bagiku, menginjakan kaki di kawasan Wisata Batu, Gunung Bromo dan jalan-jalan di Kota Jogja adalah sebuah bonus. Karena bagiku, tujuan utama dari perjalananku ini adalah bisa bertatap wajah langsung dengan mereka, keluarga nan jauh di sana yang belasan tahun sangat aku rindukan"

Kebahagiaan yang sulit aku beritahukan ketika kereta api Matarmaja yang membawaku dari St. Pasar Senen-Jakarta tiba di pemberhentian terakhir, yaitu Stasiun Malang Kota Baru. Kota yang selama ini hanya kudengar dari Ibu, Bapak, dan Adik laki-laki yang sudah beberapa kali datang ke sini. Ya, akhirnya sekarang aku sendiri bisa merasakan bagaimana berada di kota ini.
Baca juga : Gak Ada Alasan Untuk Gak Pulang 
Mungkin sebagian besar darimu akan menertawakan betapa berlebihannya aku. Yaelah, baru juga ke Kota Malang. Gue aja yang udah ke luar negeri biasa aja. Huahahah... Iyaiya. Maaf kalau memang ada yang berpikir demikian. Hanya saja memang aku terlampau bahagia karena begitu senangnya bisa sampai di sini. Karena bagiku, ini adalah perjalanan pertamaku tanpa Orangtua, Kakak, Pak Guru, atau Bu Guru.

Puspo, 29 November 2016 

Masih seperti mimpi bisa berada di sini saat ini. Ditempat yang belasan tahun hanya menjadi lamunan dalam khayalan ketika rindu merasuk dalam ruang-ruang kosong. Belasan tahun dalam khayalan. Belasan tahun dalam perencanaan. Namun akhirnya, dalam 2 hari aku bisa memutuskan untuk mewujudkannya, dan butuh 20 jam untuk mengubah semuanya menjadi nyata. Iya, perjalanan dari Jakarta ke tempat ini aku tempuh dalam 20 Jam.

Di sini, di tempat ini, aku menjajaki rindu setelah belasan tahun itu berlalu. Tidak sedikit yang berubah. Termasuk tidak adanya sosok wanita senja yang kusebut "Mbah", dan laki-laki berkacamata dengan mesin diselnya, yang kupanggil "Pakdis". Juga sebuah gubuk kecil yang dulunya menjadi tempatku pulang. Rumah Mbah. sekarang sudah rata dengan tanah.

Mbah adalah Ibu dari Ibuku. Sedang Pakdis adalah Kakak dari Ibuku.
Mbah sudah kembali kepada sang pencipta, lalu disusul Pakdis beberapa tahun kemudian. Sedang Mbah Laki, ayah dari Ibuku telah lama menghadap sang pencipta jauh sebelum aku lahir.

Selama berada di Dusun Puspo, aku tinggal bersama Kakak dari Ibuku. Mak Sara namanya. Dia hidup bersama suaminya yang kupanggil Pakdi. Kalau menurut silsilah, mereka berdua adalah Bude dan Pakdeku. 

Dua tahun terakhir ini, mereka sering kali menanyakan kabarku dan kakakku yang sudah belasan tahun lamanya tak pernah mereka lihat. Karena itu, dengan modal nekad, aku memberanikan diri melakukan perjalanan singkat ke Puspo, Pasuruan untuk bertemu dengan mereka tanpa Ibu, Bapak, atau Seseorang penunjuk jalan. Hanya seorang teman seusiaku yang ikut bersamaku.

Dengan bermodalkan Google Maps dan narasi singkat tanya-jawab dengan orang sekitar, alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan 20 jam dari Jakarta, aku bisa sampai tempat tujuan dengan sehat dan selamat.

Melihat wajahnya, mendengar suaranya dan 2 hari hidup bersama mereka dalam rumah bambu yang kuanggap istana kecil adalah 3 hal yang meyakinkanku bahwa ini adalah Best Moment 2016. Momen terbaik 2016 yang pasti akan sangat sulit aku lupakan. Karena berkat keberanianku datang ke sini, aku bisa memecah segala kerindunya.

"Foto ini diambil ketika Pakdi baru pulang mencari rumput, dan aku akan melanjutkan perjalanan ke Jogja. [30-11-2016]"

Gak hanya memecah rindu keluarga di sana, aku juga mendapat bonus jalan-jalan bersama Mas-mas kesayangan aku :D

Jujur sih, ini adalah jalan-jalan yang tak terencanakan. Karena sebelumnya, aku tidak terpikir bisa datang ke sini.  Tapi, aku kena hasut dan mengiyakan untuk jalan ke tempat Wisata Gunung Bromo.

Lokasi: Wisata Penanjakan Gunung Bromo
Yang jaket merah berkacamata adalah Mas Didi. Dia adalah anak satu-satunya dari Mak Sara dan Pakdi.
Yang Baju merah bertas hitam itu Mas Pendi. Dia adalah anak kedua dari Alm. Pakdis. Mas Pendi inilah yang menjadi siap siaga menemaniku selama di Dusun Puspo. Mulai dari jemput sampai mengantar aku ketika hendak ke Jogja. Namun dibantu dengan Mas-mas lainnya juga. Hehhee
Kalau yang bersorban leher duduk samping aku itu adalah Erwin. Anak dari Mbak Kaseh yang merupakan kakaknya Mas Pendi, atau anaknya Pakdis juga. Kenapa gak panggil "Mas" juga? Entah, silsilahnya udah langsung sebut nama aja. Usianya 1 tahun dibawahku.
Kalau yang jilbab duduk di samping Mas Didi itu namanya Sholihati. Nama panggilannya Sol:/
Kalau dia, aku kurang tau silsilahnya. Entah anaknya sapa dan apa hubungannya dengan keluargaku. Tapi yang pasti sih dia masih ada hubungan saudara denganku. 
Kalau wanita berambut panjang itu Anggita. Dia teman yang ikut bersamaku dari Jakarta.

Waktuku di Pospo memang singkat. Bahkan terbilang sangat. Karena memang waktu cuti ini terbatas dan harus dibagi dua dengan kunjungan ke Jogja, rumah Mbah dari temanku Anggita. Tapi tak apalah, insha allah semoga tahun ini aku bisa berkunjung ke sini lagi untuk melihat wajah-wajah mereka lagi, lengkap dengan kesehatan jasmani dan rohani. Mak Sara yang masih rutin sholat ke Masjid, dan Pakdi yang masih kuat untuk mencari nafkah, namun tak perlu bersusah payah berjalan sekian ratus meter untuk mencari rumput. Ya, aku berharap, di usia yang semakin senja, mereka bisa hidup dalam keadaan yang lebih baik lagi. Juga saudara-saudaraku yang lain. Plus Mas-mas kesayangan aku :*

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^