Berpikir Tentang Anak

Kemauan anak tuh jangan semuanya diturutin. Kalau diturutin terus, sampai besarpun nanti bakal kayak gitu. Apa-apa maunya selalu diturutin. Ketika kemauannya gak diturutin, dia bisa  marah, ngamuk, atau bisa melakukan hal-hal apapun (bahkan diluar kewarasan) supaya bisa dapetin kemauannya.

Iya gak sih? Karena saya sudah melihat kenyataannya.


Usia saya akhir tahun ini emang masih diposisi angka 23. Saya belum menikah, apalagi mempunyai anak. Tapi sejak saat ini saya sudah berpikir bagaimana mendidik dan membesarkan anak jika nanti saya menikah dan dikarunai anak. Aammiin. Iya sih, masih dalam pikiran, dan pemikiran ini tidak terlepas dari berbagai pengalaman dan pengelihatan saya kepada kakak, teman, tetangga ataupun kehidupan oranglain yang sudah memiliki anak.

Setiap orangtua memiliki cara masing-masing dalam mendidik anaknya. Iyalah, karena memang setiap anak memilikinya sifatnya masing-masing. Ada sifat yang menurun dari orangtuanya. Ada sifat yang terbentuk dari kesehariannya. Dan ada pula yang terbentuk dari "kelebihannya". Ada yang susah diatur, ada yang gampang diatur, dan ada yang kadang gampang dan kadang susah diaturnya. Nah, setiap anak memiliki kesusahgampangannya sendiri.

Se-aktif apapun anak yang membuat dirinya susah diatur, asal kita selalu mendidiknya menjadi anak yang baik dan membiasakan dirinya menjadi baik, insha allah seiring berjalannya waktu dan dengan penuh kesabaran, anak akan mengerti apa-apa hal baik yang kita maksud. Tidak memberi, bukan berarti pelit. Melarang bukan berarti tak sayang.

Dalam Perhatianku melihat  orangtua -yang sebut saja itu adalah kakakku sendiri, atau tetangga sebelah- dalam mendidik anak, kadang ada banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orangtua, karena yang dilakukan orangtua itu yang akhirnya membuat anak berperilaku yang tidak seharusnya.  Contohnya 2 point ini:.

Diajarkan Menjadi Pengingkar Janji
"Bolehin aku main, ya. Bener deh, aku janji hari ini gak akan pulang tengah malem kayak kemarin." kata si Anak yang masih umur 14 tahun. Orangtuanya pun membolehkan dia main. Tapi ternyata hari itu dia pulang tengah malem lagi. Lalu besoknya terulang begitu lagi, besoknya pulang tengah malem lagi, dan terus begitu lagi.

Di lain waktu, si Anak minta dibelikan jam tangan dengan harga yang lumayan. Saat itu orangtua tak punya uang. Tapi karena si Anak merengek-rengek hingga menangis, akhirnya orangtua terpaksa membelikan jam tangan itu, dengan iming-iming janji si Anak tidak akan minta "jam tangan lagi" lagi.

Belum sebulan berlalu, ketika diajak ke sebuah pusat perbelanjaan, si anak minta dibelikan jam tangan lagi, padahal jam yang kemarin juga masih ada, masih bagus, masih bisa digunakan. Tapi dia menangis, merengek, hingga orangtua kasihan dan membelikan jam tangan itu dengan diiming janji si Anak tidak akan meminta jam tangan lagi. Yap, lalu kejadian ini terus berulang dan ntah hingga sampai kapan.

Ntah sadar atau tidak, saat menuruti keinginan anaknya, menurutku orangtua itu telah mengajarkan si Anak menjadi pengingkar janji. Andai ini hanya berlangsung sekali dua kali, mungkin ini masih hal wajar sekaligus ingin masa pembelajaran si Anak. Tapi ketika ini terjadi dan terus terjadi, sama aja orangtua itu telah mengajarkan si anak menjadi pengingkar jani. Karena si Anak telah berjanji, lalu orangtua itu mendukungnya mengingkari janji meskipun secara tidak langsung.

Sebagai orangtua, seharusnya bisa mengambil ketegasan untuk tidak menuruti keinginan anak itu. Menolak dengan alasan yang tepat. Dan mengajarkan anak untuk memenuhi janji yang telah dibuatnya sendiri.

Andai kejadian ini terus berlangsung, anak akan tau bagaimana caranya mendapatkan yang dia mau. Tinggal berjanji (agar keinginannya saat itu dipenuhi), lalu mengingkari janjinya (untuk keinginan yang selanjutnya. Atau tingal menangis, lalu akhirnya dituruti.

Ya, ini benar terjadi pada anak usia 14 Tahun. di usia yang seharusnya dia sudah mulai mengerti mana yang baik dan buruk. Tapi karena kekeliruan orangtuanya dalam mendidiknya, dia tumbuh menjadi anak yang demikian. 

Dibilang terlambat, memang hampir terlambat. Diusinya yang sudah menginjak 14 tahun ini memang udah lumayan susah banget kalau dinasehatin. Tapi, kalau orangtuanya bisa sadar, lalu mendidik kembali anaknya menuju jalan yang benar, insha allah deh, dia bisa menjadi lebih baik, Begitupun sebaliknya.

Namanya juga Anak Kecil 
Itu yang sering kali orangtua bilang untuk membela anaknya ketika anaknya berbuat salah (yang lumayan fatal). Namanya juga anak kecil. Okelah, kalau anak itu masih di bawah 5 tahun atau lebih dikit. Pola pikirnya memang terbilang masih kurang. Tapi betapa sebelnya aku ketika ada orangtua yang membela anaknya dengan menyebutnya anak kecil, sedang anak itu sudah berusia lebih dari 10 tahun dan sudah melewati masa Puber! Hufffff.......... Lagipula, okelah kalau memang dia masih kecil, tapi tolonglah, jangan terlalu membela hingga anak itu tidak merasakan kesalahannya, karena dia akan merasa terus dibela, tak bersalah, padahal dia tidak selamanya menjadi anak kecil.

Satu lagi nih;

Berikan dan Beri Pengertian
Yang sering saya lihat di sini,  orangtua sering kali menuruti keinginan anaknya dengan tujuan agar anaknya senang. Namun, banyak juga orangtua yang lupa memberi pengertian ke anak ketika dia menginginkan sesuatu.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, membahagiakan anak adalah kewajiban semua orangtua. Menuruti keinginannya tentu saja boleh, namun jangan sampai membuat dia berpikir bisa mendapatkan semua keinginannya dengan mudah, hanya meminta, atau tanpa berusaha dan kerjakeras.

Jika seorang anak meminta sesuatu,  maka berikanlah selagi kalian para orangtua memang bisa memberikannya. Tapi ingatkan padanya, bahwa tak semua keinginan bisa orangtua turuti. Misalnya nih, katakan pada si anak, "Hari ini Bunda & Ayah memberikan ini untukmu karena Bunda & Ayah mampu (ada uang), tapi jika suatu hari kamu menginginkan yang lain dan Ayah & Bunda tak mampu memberikannya untukmu, maka mengertilah. Berusahalah untuk mendapatkan itu dengan caramu (yang baik) sendiri".
***

Sedini mungkin, kita (calon/para orangtua) memang harus mendidik anak dengan baik agar dia tumbuh menjadi anak yang baik pula. Sedini mungkin, sejak dia masih balita, bahkan ketika masih di dalam kandungan, kita harus mengajarkan dia dari hal-hal kecil sekalipun. Ya, agar dia tumbuh besar dengan keadaan dan kebiasaan baik.

Baiklah. Kiranya itu pemikiran tentang anak dari seorang wanita yang belum menikah, apalagi punya anak. Gak bermaksud menggurui/menyinggung para emak-emak yang udah duluan punya anak, tapi postingan ini hanya bertujuan sebagai reminder untukku kelak ketika sudah merasakan bagaimana mengurus anak. Ya, anggap aja lagi latihan menjadi orangtua yang baik untuk anaknya. Wkwkwkw

1 comment:

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^