Subuh Yang Dibangunkan Ibu

Senin, 16 Juli 2018, pukul 10 malam yang telah lewat.
Seperti biasa, aku belum tidur. Ntah ya, akhir-akhir ini aku memang kesulitan untuk tidur sesuai jam tidurku. Kadang, aku baru bisa memejamkan mata setelah lebih dari jam 12 malam. Tapi semalam, aku mengharuskan diri untuk tidur tidak teralu malam karena besok paginya, aku harus bangun lebih pagi.


Sebelum tidur, Aku menepuk bantal sambil berkata, "Ya Alah, bangunkanlah aku saat subuh". 

Aku ingat betul, semalam (atau lebih tepatnya tadi pagi) aku bermimpi berada di depan rumah. Di sana ada Ibu yang terlihat sehat. Ada pula seorang anak kecil yang merupakan tetangga sebelah. Singkat cerita, anak kecil itu iseng hingga mengagetkan Ibu. Ibu yang memiliki lemah jantung langsung merasa lemas dan gemetar. Istilah kita mah "Jantung Ibu kambuh karena kaget". Saat itu aku mencoba membawa Ibu ke kamar dan merebahkannya di kasur. Masih berasa juga, di mimpi itu aku menggendong Ibu yang ternyata begitu ringan/tidak berat sehingga aku kuat.

Saat Ibu sudah merebah, ibu meminta diambilkan bantal. Aku berikan Ibu bantal, tapi sebelum itu, aku menepuk bantal itu  supaya terasa lebih nyaman di kepala Ibu.

Ketika Ibu sudah merasa nyaman dengan bantalnya, aku tersadar dari mimpi, tepat saat azan subuh berkumandang. Dan saat itu, aku merasa Allah membangunkanku melalui Ibu.

Tadi pagi.............
Setelah terbangun, aku Mengumpulkan keberanian dulu. Aku duduk di kasur, menerka-nerka adakah yang sudah bangun jam segini? Awalnya aku bellum berani, tapi terdengar suara azan yang mirip tayangan di TV. Kayaknya TV nyala tuh. Pikirku.  aku mulai beranjak dari kasur dan keluar kamar. Tapi ternyata tak ada orang. Suara azan itu juga bukan dari TV, melainkan suara azan dari Ponsel adikku. Hufff..

Tapi yaudahlah. Aku memberanikan diri ke kamar mandi. Dan pagi ini, aku sukses bangun sendiri meskipun suasana rumah masih benar-benar sepi.

Ya, bahagia itu sederhana

Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah bangun subuh atau sebelum jam 5 pagi. Sebenarnya pernah sih, karena aku sedang dalam masa sulit tidur. Tapi yang aku maksud di sini adalah benar-benar bangun tidur, turun dari kasur, ke kamar mandi dan melakukan aktivitas lainnya.

Aku sering bangun tengah malam. Bahkan begadang karena tidak bisa tidur. Tapi keberanianku beranjak dari kasur benar-benar cemen banget. Jangankan bangun dan beraktivitas tengah malam, beranjak dari kasur saat azan subuh sudah berkumandang aja aku tak mampu. 

Aku memang penakut.  Dulu, sewaktu Ibu masih ada, aku sering membangunkan Ibu untuk minta ditemani ke kamar mandi saat malam hari. Setelah aku mulai berani, aku sering kali bangun sendirian 1 jam sebelum subuh  atau sepertiga malam dan melalukan aktivitas. Ya, aku mulai jadi pemberani. Malam bagiku tak lagi kelam. Aku suka kesunyian.

Tapi, tak lama setelah itu, ketakutan Itu makin menggila. Apalagi setelah Ibu tiada. Jangankan bangun dan beranjak dari tempat tidur, membuka mata dan melihat sekeliling kamar aja aku merasa takut. Padahal, ukuran kamar hanya sekotak. Ya allah...
Baca juga: Perjalanan Singkat Ibu sebelum Gagal Ginjal
Hari berlalu dan berbulan-bulan sudah Ibu pergi. Pelan-pelan, aku mulai berani meskipun sebenarnya masih menjadi anak yang penakut. Ya, setidaknya sekarang aku sudah berani melihat sekeliling kamar saat malam hari ketika mata tak ingin terpejam. 

Tapi ada satu hal yang masih aku sayangkan, keberanianku untuk bangun dan beraktivitas saat orang-orang masih terlelap masih belum kembali. Aku lebih suka menahan pipis sampai pagi daripada harus jalan sendiri ke kamar mandi.

Sering pula subuhku terlewat karena saat azan berkumandang, aku tidak beranjak dari kasur. Lalu tidur lagi karena digodain setan. Huffff.. Kalau dulu, pagiku terasa aman karena ada Ibu yang selalu membangunkan aku untuk sholat. Tapi ya, setelah Ibu tiada, bisa dibilang pagiku kacau meskipun alarm sudah standby dan Bapak membangunkan (tapi gak seserius Ibu).

Dan, ya.....
Sederhana kebahagiaan pagi ini. Aku bisa bangun lebih pagi, dan terasa seperti Ibu yang membangunkanku. dan semoga ini tak hanya sekali saja.

Karena aku merindukan pagi dan sepertiga malamku.

1 comment:

  1. Saya juga gitu mbak, memang tidak ada yang mengalahkan nikmatnya suasana subuh. Kalau juga dulu awalnya gitu sering banget bangun tengah malam terus kejaga sampe nungguin subuh. Iya dulu hingga kebiasaan begadang itu datang lagi yang buat saya jadi sulit banget buat bangun subuh Untungnya ada adikku yang sering banget bangunin untuk siap-siap anter dia ke sekolah.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^