Eksploitasi Anak dibalik Audisi Beasiswa Bulutangkis

Audisi bulutangkis, mengembangkan bakat anak atau malah mengeksploitasi anak? Sebuah pertanyaan yang cukup menghipnotisku untuk berpikir pilihan mana yang benar-benar tepat untuk menjadi jawaban yang tepat. Hem....
Sabtu berfaedah minggu lalu bersama para blogger dan Lentera Anak, kami berkumpul dan berdiskusi mengenai Dugaan Eksploitasi anak di balik Audisi bulutangkis yang diadakan setiap tahun di beberapa kota Indonesia. Yang dimaksud di sini adalah Audisi bulutangkis Program dari CSR sebuah merk rokok yang merupakan  ajang bergengsi bagi kebanyakan orangtua, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengikutsertakan anaknya dalam audisi ini. 

Iya, banyak lho peminat audisi ini. Menurut data yang di dapat dari Lentera Anak, pendaftar audisi bulutangkis yang diselenggarakan sebuah merk rokok ini meningkat setiap tahunnya. Dari 445 peserta pada tahun 2008, kini peminatnya terhitung mencapai 5.957 pada Tahun 2018. Dari tahun ke tahun, peserta dengan rentang usia 6 - 13 tahun yang mendaftar terus mengalami peningkatan berkali-kali lipat.

Tapi sangat disayangkan, dari ribuan anak yang mendaftar, hanya puluhan saja yang menerima beasiswa tersebut. Seperti pada tahun 2018 lalu, hanya 23 anak yang mendapat beasiswa. Itu pun nanti mereka akan menghadapi babak selanjutnya agar tetap bisa bertahan sampai menjadi atlet.

Adanya audisi ini memang menjadi perhatian banyak orang karena "cukup menggoda" dan  bisa mengembangkan bakat anak menjadi atlet nasional dalam olahraga bulutangkis. Tapi jika diperhatikan lebih dalam lagi, ternyata ada beberapa hal yang "salah" dalam penyelenggaraan audisi ini. Bahkan, justru terlihat ada tindakan mengeksploitasi pada anak.

Ada Apa Dengan Eksploitasi Anak dibalik Audisi Beasiswa Bulutangkis?
Lagi, biar kujelaskan lagi bahwa yang dimaksud di sini adalah Audisi bulutangkis Program dari CSR sebuah merk rokok. Kalau kalian sadar, pasti kalian juga akan ngeh letak kesalahan pertama dalam pelaksanaan audisi ini.

Iya. Rokok dan anak-anak di bawah 18 tahun.
Awalnya, aku pun gak sadar bahwa ada yang salah dari beasiswa ini. Tapi setelah mendengarkan paparan dari Ibu Lisna Sundari, Pendiri Yayasan Lentera Anak dan diskusi dengan para Blogger, aku baru paham bahwa tidak seharusnya anak dilibatkan dalam audisi ini.

Rokok adalah produk berbahaya karena mengandung zat adiktif, yang seharusnya dilindungi dan dijauhi oleh anak-anak, tapi dalam audisi beasiswa ini, anak malah didekat-dekatkan dengan brand rokok tersebut sebagai sponsornya. Terlebih lagi, audisi ini dipenuhi dengan Logo, nama, dan ciri khas dari merk rokok tersebut.

Gak cuma itu aja sih. Anak-anak sebagai pesertanya juga menggunakan kaos dengan warna ciri khas brand tersebut yang bertuliskan merk rokok tersebut dengan ukuran yang sangat besar pada bagian depannya. Konon katanya, tulisan merk rokok tersebut harus terlihat dan tidak boleh ditutup-tutupi.

Nah, menurut Lentera Anak, ini sama aja  seperti memanfaatkan tubuh anak sebagai iklan/media promosi brand rokok tersebut. Padahal, udah disebutkan dalam UU Perlindungan Anak Pasal 71, yang intinya tidak boleh mengeksploitasi anak secara ekonomi dan seksual. Nah, dalam hal ini, banyak yang gak sadar kalau anak dieksploitasi secara ekonomi karena memanfaatkan fisik/tubuh anak.

"Mereka cuma ikutan audisi aja, bukannya disuruh merokok dan di sana juga gak ada yang jual rokok, tuh!"

Iya sih, iya. Menurut kita, itu emang "cuma". Tapi jika sudah melibatkan anak, ini bisa berdampak buruk pada masa depan anak, karena bisa memengaruhi anak untuk merokok dan menganggap rokok itu baik.
Dalam diskusi yang serius tapi santai, Lentera Anak dan Blogger mencoba berdiskusi dan mengemukakan pendapat mereka dari sudut pandang pro dan kontra. Nah, di sini bisa diambil kesimpulan bahwa tetep aja, rokok dan anak-anak adalah hal yang salah.

Anak memiliki kepribadian yang rentan. Menurut Mbak Liza Djaprie sebagai Psikolog, otak anak itu seperti spons. Saat dia mendekat pada air, ia akan menyerap air. Saat ia mendekat pada minyak, ia akan menyerap minyak. Anak akan menyerap sesuai apa yang mereka dapat, tanpa peduli mana yang baik dan yang buruk.

Sama halnya dalam Audisi Beasiswa dari Brand Rokok ini. Kebanyakan anak akan menganggap bahwa Brand tersebut adalah "orang baik" yang memberikan beasiswa, peduli dengan dunia olahraga dan bisa membantu mewujudkan anak menjadi atlet. Padahal, Brand tersebut adalah perusahaan rokok, dan rokok adalah produk berbahaya yang telah membunuh 200.000 manusia di dunia setiap tahunnya. Apapun yang berhubungan dengan rokok harus diperhatikan.

Dalam hal ini juga, secara tidak langsung anak bisa masuk dalam dunia rokok. Pun ketika mereka kenal dan ingin mencoba rokok, besar kemungkinan anak akan memilih produk rokok dari merk penyelenggara beasiswa yang pernah diikutinya.

Makanya nih, peran orangtua dalam mengawasi dan membatasi hubungan anak dengan rokok sangat penting. Teruslah dan jangan pernah berhenti mengingatkan kepada anak tentang bahaya rokok. Jangan mendekat, apalagi sampai mencoba dan jadi kecanduan.

Melalui update-an Instagram, aku pun mendukung #TangkisEksploitasiAnak, agar anak-anak tidak lagi dilibatkan dalam apapun yang berhubungan dengan rokok. Lindungi pula anak-anak dari #Eksploitasi dalam hal apapun agar anak bisa berkembang dengan sewajarnya dan memiliki masa depan yang cerah.




Saya Nurri, saya blogger. Saya siap melawan eksploitasi anak dalam bentuk apapun, termasuk dalam audisi bulutangkis. Ajang bergengsi audisi bulutangkis dari program CSR sebuah merk rokok menjadi perhatian khusus Tim Lentera Anak dan Para Blogger. Banyak yang gak sadar bahwa ada eksploitasi anak dalam audisi ini. Terlebih lagi dalam audisi ini banyak melibatkan nama, logo dan ciri khas merk rokok tersebut yang sangat mendekat pada anak-anak, padahal itu adalah merk rokok yang merupakan produk dengan kandung zat adiktif dan berbahaya yang seharusnya DIJAUHI dan dilindungi dari anak-anak. Nah, makanya nih supaya gak terus-terusan terjadi, yuk sadari dan dukung #TangkisEksploitasiAnak . Hentikan pula #EksploitasiAnak dalam hal apapun. Ulasan lengkapnya tunggu di www.nurlianasyaf.com, yak! Intinya sih, stop melibatkan anak pada sesuatu yang seharusnya dijauhi oleh anak-anak, yak! Kamu gimana? Ikutan dukung juga kan? #AudisiEksploitasiAnak @lenteraanak_ @fctcindonesia @nahrawi_imam @komnas.pa @kemenpppa @kemenpora
A post shared by N.R. (@ranurri) on

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Salah satunya dengan mengembangkan bakat anak melalui audisi bulutangkis ini. Memang, tidak ada ada salahnya mengikutsertakan dalam audisi bulutangkis, tapi hal ini menjadi salah jika malah "mendekatkan" anak pada yang seharusnya dijauhi oleh anak-anak.

Dengan mengikutsertakan anak dalam audisi bulutangkis yang diselenggarakan oleh brand rokok, secara tidak langsung sudah mendekatkan anak dengan sesuatu yang seharusnya dijauhi oleh anak-anak, yaitu rokok.

"Tapi kan perusahaan rokok itu baik, udah penyumbang terbesar pendapatan Negara Kita." - Nitijen.

Ya tetep aja keles, kita harus tetap waspada dan peduli karena rokok tetaplah produk berbahaya yang menjadi penyebab kematian manusia dan harus sangat dilindungi dari anak-anak.

Adanya audisi beasiswa bulutangkis  ini sesungguhnya sangat bermanfaat untuk pengembangan bakat anak. Tapi ada baiknya tetap memperhatikan batasan antara hal yang berhubungan dengan Rokok dan Anak-anak.

Yuk, jadi individu yang baik dengan memperjuangkan masa depan anak dan lindungi anak dari apa-apa yang harus dijauhi oleh anak


3 comments:

  1. "Tapi kan perusahaan rokok itu baik, udah penyumbang terbesar pendapatan Negara Kita." - Nitijen. Hahaha kok aku ngakak ya pas ada bagian "nitijennya" xD

    Btw, aku setuju banget dengan apa yang dipaparkan di tulisan ini. Mau penyumbang terbesar pendapatan negara atau bukan, enggak jadi pembenaran ketika perusahaan rokok melibatkan anak-anak dalam kegiatan mereka. Sebab tetep aja rokok adalah zat adiktif yang berbahaya.

    Mudah-mudahan makin banyak netijen yang paham akan isu ini ya dan perusahaan rokok tidak melibatkan anak-anak lagi di kemudian hari. Amin.

    ReplyDelete
  2. yuk kita jaga generasi anak anak kita kelak ya mba dari bahaya eksploitasi anak ini. Serem melihat fenomena yang mba tuliskan. Betapa kita selama ini baru menyadarinya ya mba.

    ReplyDelete
  3. Wah saya baru ngeh misi CSRnya. Trims ulasannya mba

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^