Trip Singkat Di China Town Jakarta Bareng Picnichild

Setiap kali kedatangan tamu dari luar kota, mereka seringkali bertanya, "Di Jakarta enaknya kemana nih?" "Kalo Explore Jakarta, yang seru kemana, ya?" Dan seperti biasa, aku bingung menjawabnya. "Kemana, ya? Ya Paling Monas, Kota Tua, Ragunan, TIM, Ancol, atau Taman Mini Indonesia Indah?" Ya, gimana, ya. Aku taunya tempat-tempat gitu doang.

Jujur sih, meskipun udah menjelang 24 Tahun tinggal dan hidup menetap di Jakarta, pengetahuanku soal jalanan dan tempat wisata di Jakarta emang masih cetek banget. Maklum, yak. Sebelum kerja, akutuh anak rumahan banget. Makanya nih, kalau ada ajakan berkunjung ke tempat-tempat wisata atau bersejarah, aku seperti tidak ingin menolaknya. Biar tau. Biar nambah pengetahuan. Biar gak malu-malui. Cuy!

Minggu, seorang teman bernama Audi melempar ajakannya buat ikutan "piknik" alias berkunjung ke beberapa tempat di kawasan Glodok. Biasanya, kami menyebutnya China Town. Ini tuh sekitaran Kota Tua Jakarta. Dan kebetulan, beberapa tempat belum pernah aku datangi, jadi ya gak menolak ajakan ini dong. 

Ohiya. Sekilas info dikit. Audi ini temen nemu di kereta. Hihihi. Aku bertemu Audi di gerbong makan kereta Argo Bromo dalam perjalanan Semarang - Jakarta, Oktober tahun 2018. Waktu itu, aku dari Semarang, dan Audi dari Surabaya. Dan kebetulan, kami menuju Jakarta dan sama-sama sendirian. Sebuah pertemuan singkat itu kami jaga dan terus berkomunikasi sampai sekarang. 

Perkenalan kami di kereta juga disponsori oleh biskut stick Pocky. wkwk. Jadi, waktu itu aku pas lagi mau ikutan campagin nya Pocky, harus foto dan upload di Instagram. Nah, dengan sedikit keberanian, akhirnya aku Ajak Audi buat foto bareng. Eh, dia mau dan alhamdulillah welcome dengan perkenalan kami. Yaudah deh, jadi beneran berteman kita. Dan yak, setelah sekian kali gagal pas mau ketemuan, akhirnya kami ketemu lagi!


Minggu, 3 November 2019. Bersama @Picnichild, Piknik singkat kami hari itu mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang ada di China Town - Glodok, yaitu Candra Naya - Pantjoran Tea House - Kopi Tak Kie - Petak 9 - Wihara Dharma Jaya Toasebio - Gereja Maria De Fatima dan Wihara Dharma Bakti.

Lumayan nih, buat kalian yang ingin melihat sisi lain Jakarta tapi gak punya temen, bisa gabung sama Picnichild ajah. Seru kan jadi pikniknya rame-rame dan bisa nambah teman dan kenalan dengan picnichild lainnya juga. Trus kemana rutenya? Iya, ke sini:

Candra Naya
Bangunan bersejarah yang terselip di antara gedung Hotel dan Apartmen. Lokasinya ini gak jauh dari Halte Busway Glodok atau 1 halte sebelum Halte Busway Jakarta Kota. Jadi, kalau mau ke sini bisa naik Transjakarta, kemudian tinggal jalan kaki. Atau bisa juga jalan/naik angkot dari Stasiun Jakarta Kota. 

Pic: @Picnichild
Candra Naya merupakan peninggalan sejarah bekas kediamam (rumah) salah satu bangsa Thionghoa yang masih sangat terjaga. Bentuk bangunannya ini agak beda yak. Atap nya ini seperti
Rumah ini masih bagus dan terawat banget.

Layaknya rumah biasa, kalau kita masuk ke sini, ada

Awalnya aku gak nyangka sih kalo ternyata bangunan bersejarah ini bener-bener "nyatu" sama lingkungan hotel dan Apartmen. Kalau kalian mau ke sini, gak perlu bingung dengan lokasinya, karena bisa berpatok sama Hotel Novotel. Karena Candra Naya ini berada persis di Lobby nya.

Dulu, Selain Candra Naya sebenarnya ada beberapa bangunan bersejarah lainnya, namun sudah dihancurkan dan didirikan gedung apartment. Nah, makanya Candra Naya ini jadi satu-satunya bangunan yang masih terjaga dan berdiri kokoh di sini. 








Tergoda ingin bisa mengunjungi tempat-tempat wisata/peninggalan sejarah di luar kota, aku sampai lupa bahwa banyak sekali tempat di kotaku sendiri yang belum pernah aku datangi. Ada yang gitu juga gak? Wkwkw . Tapi gak boleh ketinggalan! Sekarang, satu persatu tempat wisata atau peninggalan sejarah di Jakarta harus kujamah~ . Bareng @Picnichild, tujuan piknik singkat di Jakarta kali ini berkunjung ke Candra Naya, sebuah bangunan cagar budaya bekas kediaman (rumah) bangsa Tionghoa yang masih terjaga. Lokasinya di Jalan Gajah Mada dan berada diantara tingginya gedung Novotel. . Jujur sih, aku baru tau adanya Candra Naya ini. Bangunannya masih bagus, terjaga dan beberapa sudutnya instagramable banget (ini penting) ehh😝🤣 . . . #picnic #picnichild #piknikinjakarta #explorejakarta #jakarta #pecinanjakarta #pecinan
A post shared by N.R (@ranurri) on

Tempat ini lumayan instagramable, yak. Yang suka foto-foto bisa mampir ke sini. Tapi, katanya sih dilarang menggunakan kamera dslr gitu. Tapi tetap boleh menggunakan kamera HP. Beberapa foto yang aku jepret di Candra Naya bisa kalian intip di Instagram @RaNurri~, yha~

Pantjoran Tea House
Sama seperti Candra Naya, Pantjoran Tea House ini tempat yang baru kudengar juga. Ini adalah salah satu Restoran yang terkenal dengan Tradisi Patekoan. Pat itu memiliki arti delapan. Sedangkan Teko adalah Teko. Jadi 8 Teko. Nah, 8 Teko ini berisi air teh yang disediakan secara gratis bagi siapapun yang ingin meminumnya. Gelasnya juga disediakan, ya.


Kabarnya dulu, ada seorang keturunan tionghoa yang menyiapkan 8 Teko ini untuk para pedagang dan penduduk sekitar yang kehausan membutuhkan minum. Dan tradisi ini terus berjalan sampai sekarang. Lokasinya di pinggir jalan raya gitu. Jadi, kalau sering lalu-lalang sekitaran glodok, mungkin kalian pernah liat.

Pas datang ke sini, aku nyobain dong air Teh nya. Rasanya teh biasa aja sih. Tapi kalo menurut aku ini bukan "teh celup" biasa. Wkwkw. Ini air teh tanpa gula. Tapi pas diminum, rasanya enak dan menyegarkan gitu~


Kopi Tak Kie
Perjalanan kami berlanjut ke sebuah tempat yang ada di dalam gang-gang. Di sini ada Es Kopi yang sering jadi perbincangan temen-temenku nih. Kalau blusukan di Petak sembilan, gak afdol rasanya kalo gak mampir sini. 

Namanya Kopi Es Tak Kie. Meskipun sebelumnya udah datang ke sini, ini adalah kali pertama aku masuk dan menikmati es kopi nya sambil berbincang dengan yang lainnya. Harga kopinya Rp. 22.000 dengan rasa yang sulit aku deskripsikan. Wkwkkw

Enak kok enak. Rasa kopinya berasa, tapi bukan tipe kopi yang kental, ya. Selain kopi, di sini juga tersedia makanan. Tapi bagi kalian yang muslim, ada baiknya bertanya dulu tentang menu makanannya sebelum membelinya, yak.

Petak 9
Menelusuri jalan kecil diantara para pedagang, di Petak 9 ini kami mampir menikmati gorengan Cempedak. Sumpah, ya. Ini enak banget. Harganya 15.000. Pas makan ini, kita bisa menikmatinya dengan tambahan gula cair yang diberikan.

Penjual gorengan Cempedak ini udah termasuk jarang banget. Malah aku baru nemu penjualnya di sini aja. Gak berbentuk kedai atau toko, tapi penjualnya berjualan di depan rumah gitu. Sayang, aku gak sempat mengambil gambar pas di sini.

Wihara Dharma Jaya Toasebio


Sambil menikmati cemilan Cempedak, kami mampir di  Wihara Darma Jaya. Wihara yang baru pertama kali aku datangi. Wihara ini cukup ramai dengan para pendoa.
Pic: @Picnichild

Tapi sayangnya, aku gak terlalu ngeh dengan tempat ini karena cuma duduk di luar dan pepotoan. Huh. Agak nyesel juga sih. Next mesti lagi nih.


Gereja Maria De Fatima
Tidak berbentuk seperti gereja, bangunannya mirip-mirip sama Candra Naya. Gereja ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa pada abad ke-19 kalau menurut Wikipedia. Letaknya ada di Jl. Kemenangan III No. 47- Glodok. Di sini, ada patung Maria De Fatima yang didatangkan langsung dari Italia.

Pic: @Picnichild
Wihara Dharma Bhakti
Ini adalah kunjungan ketigaku di tempat ini. Tetep seru dan menyimpan cerita yang beda. Aroma dupanya masih jadi "alarm" yang mengingatkanku pada seseorang. Duhelaahhh...
Eh, jadi kangen wewangian dupa, lengkap dengan mas-masnya!

Pic: @Picnichild

Kabarnya, tempat ini merupakan tempat beribadah untuk 3 agama, yaitu Budha, Konguchu dan China. Klenteng ini dibangun pertama kali pada tahun 1650 dan dinamakan Kwan Im Teng kemudian diserap kembali ke dalam bahasa Indonesia menjadi klenteng.



Klenteng ini merupakan klenteng besar dan sering ada festival dan perayaan hari-hari raya tionghoa. Moment yang paling aku suka di sini adalah melihat mereka berdoa di antara wewangian dupa. Deretan rupang atau patung dewa-dewi juga bisa kita amati langsung. 

Walau kita datang sebagai pengunjung, aku merasa disambut baik dengan mereka yang datang untuk beribadah. Yang penting jangan sampai mengganggu aja sih. Di sini kita juga bisa mengambil gambar/foto-foto, tapi ada tempat juga gak dibolehkan untuk berfoto. 


Puas menjajaki klenteng ini, trip singkat hari itu ditutup dengan pengumpulan Donasi dari Kakak perwakilan Picnichild. Untuk besaran donasinya terserah dan semampunya aja. Tidak memberatkan, yang penting ikhlas aja.

Sekitar pukul 14.00, kami berpencar menuju rumah masing-masing. Ya, menurutku, ini hari yang seru karena bisa menapaki China Town Glodok dan bertemu dengan teman baru. Next Trip, tentu aku mau ikutan lagi dong!

1 comment:

  1. seru kegiatan seperti ini , aku juga mau, malah tempat tempat yang tersembunyi gini yang jarang banget anak muda tahu

    gerejanya unik, jarang jarang arsitektur gereja bernuansa chinese gini

    serunya kalo pergi sendiri trus ga sengaja nemu temen seperjalanan yang cocok, ehh bisa jadi sohiban. nambah temen baru lagi deh

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^