Cabut Gigi di RS Prikasih Setelah Pendarahan Gusi

Share:
Biaya Dokter RS Prikasih dan biaya cabut gigi di Rumah Sakit pasti tidak murah. Ya, itulah yang ada dipikiran banyak orang kalau udah berurusan ke Rumah Sakit. Semua ada benarnya. Tapi tidak semuanya benar. Semua biaya tergantung dari sakit atau pengobatan apa yang kita jalani. Seperti pengalaman saya bulan Desember 2020 yang lalu.

Pendarahan setelah scaling 4 tahun lalu sebenarnya sudah membuat aku trauma dengan masalah kesehatan, apalagi yang terjadi pada bagian mulut. Makanya, aku semakin ekstra menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tapi minusnya, aku tetap takut ke dokter gigi untuk cek secara berkala. Ya, hingga akhirnya terjadi lagi pendarahan  gusi. Bahkan kali ini lebih dramatis dari yang sebelumnya.

Jadi ceritanya gini. Rabu dini hari, seperti biasa aku kebangun dari tidur. Setelah ke kamar mandi, ternyata gak bisa tidur dan perut perih banget. Ya, akhirnya coba ngemil Kastangel dan makan 1/2 buah apel. Lepas adzan subuh, aku mulai bisa tidur lagi.  Sebelum tidur, aku ngerasain gusi aku berdarah. Tapi kemudian berhenti setelah kumor-kumor. Makanya aku langsung coba tidur.

Jam 5 lewat, aku ngerasain mulutku kayak "penuh" gitu. Pas ke kamar mandi, ternyata gusiku berdarah. Nah, dari sinilah, ternyata darah yang keluar dari gigi geraham bawah gak berenti-berenti sampai akhirnya jam 8.40 aku coba mendatangi IGD Rumah Sakit Terdekat. 

Di RS pertama, mereka gak mau "nerima" karena aku menggunakan BPJS. Ya, salahku juga sih malah datang ke RS pertama. Mereka menawarkan tindakan medis dengan catatan biaya ditanggung sendiri alias gak di cover BPJS. Itu pun aku disuruh melakukan berbagai pemeriksaan mulai dari Tes Covid, tes kelainan darah, dan lainnya. Tentu saja aku NYERAH. Ya allah, berapa jutah bayarnya?

Gagal di RS pertama, aku coba ke RSUD. Tapi ternyata sama aja. Mereka gak mau nanganin. Bahkan mereka bilang ini GAK URGENT. Lalu aku tanya, SAYA UDAH PENDARAHAN SEJAK JAM 5 PAGI. KENAPA DIBILANG GAK URGENT?"
Mereka menyarankan aku berobat ke Poli gigi dan mengikuti antrian seperti berobat biasa. Karena males berdebat dan petugasnya judes banget, aku langsung mengalihkan diri ke kamar mandi, karena mulut juga dipenuhi darah. Lalu langsung pergi ke klinik yang ada dokter giginya. 

Nah, Ini makasih banget buat Anggi yang bersedia di ganggu jam kerjanya dan membantu aku bisa bertemu dengan dokter giginya. Karena untuk bertemu dokter gigi saat ini harus membuat janji dulu. Tapi berkatnya, aku bisa bertemu dengan dokter gigi di klinik. Alhamdulillah.

Ya, sesampainya di klinik, dokter gigi langsung melihat kondisi gusi yang terus-terusan mengeluarkan darah. Dokternya pun bingung, apa penyebabnya. Sejak pagi juga sudah di "sumpel" namun darah tetap gak berenti. Sempat diperiksa juga oleh dokter umum, dia malah bilang kemungkinan ada pembuluh darah yang pecah. OH  NO! Ya, ini mulai bikin aku tegang juga. Dokterpun merujuk lagi ke RS yang ada dokter bedah mulut. Saat ini aku dirujuk ke RS Polri. 

Siang itu pukul jam 12,  kumulai berasa oleng. Ya, sepertinya ini campuran antara panik dan belum makan apa-apa. Jadi badan berasa lemes, gemetar dan kek keleyengan gitu. Dokter pun menyarankan untuk segera bertemu dengan dokter bedah karena takut ada pengaruh karena darah yang terus-menerus keluar dari gusi.

Sekitar pukul 1 siang, aku tiba di RS Polri, namun ternyata dokter gigi dan bedah mulut sudah tutup praktek (padahal kalau di jadwal ada praktek siang). Ternyata hari itu hanya ada praktek pagi aja. Awalnya Dokter IGD "lepas tangan" dan gak mau mengambil tindakan apapun dengan alasan 'tidak bisa membantu karena harus ditangani dengan dokter bedah mulut langsung.

Tapi setelah terjadi drama-drama,  akhirnya Dokter IGD mau memeriksa dan memberikan obat untuk meredahkan pendarahan. Sempat dicek denyut nadi juga mulai melemah, khawatir pengaruh dari darah yang terus keluar. Makanya, Dokter berpesan untuk SEGERA mendatangi Dokter Bedah Mulut Sebelum Terlambat!

Panik? Tentu saja semakin-semakin!
Sebelum meninggalkan Rumah Sakit, aku dan kakak langsung mencari Klinik dan Rumah Sakit dari Mbah Google. Tapi sayangnya, setelah kami menghubungi via telpon, banyak dokter yang tidak standby karena harus membuat janji lebih dulu. Ada klinik yang tersedia, namun aku TAKUT dan RAGU, mengingat banyak sekali kasus dokter "gadungan" yang gak bertanggung jawab.

Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk datang ke RS Prikasih Pondok Labu. Kenapa RS Prikasih Pondok Labu? Gak tau, ya. Tiba-tiba kepikiran aja gitu. Kebetulan pernah mengunjungi RS ini juga beberapa waktu lalu. Dan aku juga langsung menghubungi RS untuk memastikan bahwa ada dokter bedah mulut. 

Sampai di lokasi, mendatangi IGD dengan harapan bisa diprioritaskan agar segara dilakukan pemeriksaan. Tapi ya ternyata sama aja.  Harus mendaftar mandiri dengan proses seperti "berobat" biasa. Tapi alhamdulillah saat itu gak ada pasien lain selain aku. 

Tibalah saat masuk ke ruang tindakan.
"Udah dari jam berapa darahnya keluar terus?" Tanya dokter.
"Dari jam 5, Dok." 
Aku ingat betul waktu itu jam sudah menunjuk waktu ashar, pukul 15.30.  Ya, kalau dihitung-hitung, berarti sudah 10 jam lebih darahnya tidak berenti.

Karena di awal sudah melihat dokternya yang sangat baik dan tenang dalam mengambil tindakan, aku jadi merasa punya banyak harapan bahwa masalah ini akan segera terselesaikan.  Terlebih apa-apa yang diucapkan juga membuat aku jadi lebih rileks, gak seperti dokter-dokter sebelumnya. wkwkw

Tindakan Cabut Gigi 
Setelah dicek, penyebab pendarahan gusi yang aku alami ini bersumber dari gigi yang sudah "rusak". Dokter bilang, darah yang keluar bukan dari pembuluh darah, melainkan memang darah 'kotor' yang ada di area gusi. Dokter menyarankan supaya gigi yang rusak itu dicabut. 

Karena kondisi darah yang masih terus keluar, awalnya dokter menyuruhku untuk minum obat dulu selama lebih kurang 7 hari, sebelum diambil tindakan cabut gigi. Tapi, pas dicek kondisi gigi dan gusi gak ada pembengkakan dan anastesi yang diberikan bekerja dengan baik, akhirnya dokter langsung mengambil tindakan cabut gigi saat itu juga.

Kali pertama juga nih ngerasain cabut gigi. Kerasa juga gigi ditekan-tekan dan "dicongkel" pake tang wkwkw. Ada rasa ngilu dan sakit juga. Yang paling berasa itu karena "pegal" juga karena harus membuka mulut dalam waktu yang lama.  

Trus gimana? Rasanya sakit banget gak? Alhamdulillah rasa sakitnya sesuai batas dan kemampuanku. Yang pasti, semua yang terjadi ini gak se-menyeramkan atau se-menakutkan yang sebelumnya dibayangkan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar.

Selesai dilakukan pengangkatan gigi, dokter memastikan bahwa pendarahannya juga sudah berenti. Jadi benar nih, darah yang keluar dari pagi tadi disebabkan karena gigi yang rusak tersebut. Dokter juga memperlihatkan kepada kakak aku, kalau darah yang masih keluar setelah aku cabut gigi adalah darah normal, dan bukan pendarahan

Ini terlihat karena darah yang keluar hanya sedikit. Umumnya juga akan berenti setelah beberapa jam. Harusnya tidak sampai besok pagi. Nah, kalau masih terus keluar, harus segera dikonsultasikan kembali pada dokter gigi. 

Biaya Dokter dan Biaya Cabut Gigi di RS Prikasih Pondok Labu
Ini adalah kali pertama aku berobat di Rumah Sakit tanpa menggunakan BPJS. Awalnya maju-mundur gitu karena takut kalau biaya Pribadi yang harus dikeluarkan berjuta-juta. Apalagi kasus pendarahan gusi ini. Tapi, demi kesembuhan dan keselamatan, aku memberanikan diri dan mencoba ikhlas.

Selesai dari ruang tindakan, suster memberikan sebuah lembar kertas yang bertuliskan resep obat, biaya-biaya tindakan dan biaya dokter. Ketika melihat angkanya, alhamdulillah gak tembus jutaan. Tapi ini baru biaya dokter dan tindakan aja lho. Belum sama obatnya. wkwkw

Pas obatnya ditebus, alhamdulillah juga ternyata harga obatnya terjangkau, seperti harga obat-obatan yang biasa nebus di apotek deket rumah. Jadi gak sampai ratusan ribu atau mahal banget seperti yang dibayangkan sebelumnya. 

Biaya Dokter RS Prikasih yang harus aku bayar diantara lain ada Biaya Administrasi, penggunaan APD RJ, Konsultasi Dokter dan biaya tindakan. Tindakan ini tertulis "EXO Dewasa Belakang dengan komplikasi". Total yang harus aku bayar Rp815.000 (delapan ratus lima belas ribu rupiah). 

Kemudian ada biaya obat atau instalasi farmasinya. Aku mendapat 3 obat yang merupakan obat untuk menghentikan pendarahan atau vitamin K, obat untuk kalau nyeri gigi dan antibiotik. Nah, harga obatnya ini tergolong murah ya menurutku. Total biaya obat yang aku tebus itu Rp51.670 ( lima puluh satu ribu enam ratus tujuh puluh rupiah). 

Kalau ditotalkan keseluruhannya, biaya yang harus aku bayar adalah Rp815.000 + Rp51.670= Rp866.670.

Ya, walaupun harus membayar mandiri semua biaya yang ditagihkan, aku tetap bersyukur bahwa akhirnya masalah ini terlewati. Juga sangat merasa puas dengan dokter yang menanganiku dengan sangat baik, teliti, hati-hati dan penuh perhatian.

Dia menjelaskan setiap bagian dari pemeriksaan. Seperti menunjukkan langsung kepada kaka aku kalau sumber darah yang keluar bukan dari pembuluh darah, jadi tidak perlu merasa sangat cemas/takut. Termasuk juga memberi tau langsung kondisi gigi yang rusak, saat gigi sudah dicabut, dan kondisi saat darah yang keluar normal setelah gigi dicabut. Dari sini kita jadi tau dan paham hasil  dari pemeriksaan tersebut. Beda aja gitu sama beberapa dokter yang pernah aku temui sebelumnya saat melakukan pemeriksaan.

Alhamdulillah, malam hari setelah cabut gigi, darah sudah tidak lagi keluar. Rasanya ya "nyeri"  sebagaimana wajarnya yang sering terjadi pada bagian gigi dan gusi. Terpenting juga untuk mengikuti saran dokter untuk minum obat dan jangan menyentuh atau 'mengorek' bagian gusi bekas gigi menggunakan lidah maupun benda lainnya.

Aku sangat-sangat berdoa semoga ini pendarahan dan permasalahan gigi yang terakhir aku alami. Pun dengan kalian juga ya, jangan lupa selalu menjaga kesehatan!

2 comments:

  1. semoga lekas sembuh gusinya mba. Biayanya wow juga ya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentarmu, ya..
Tiada kesan tanpa komentar yang kau tinggalkan. ^,^